Harga Telur Ayam Anjlok, Peternak Inginkan Telur Masuk Paket Bansos

Maksud tujuan dari dimasukkannya telur ayam dalam paket bantuan sosial adalah untuk mengerek permintaan dan harga telur di pasaran.

Editor: Ichwan Chasani
Warta Kota
Ilustrasi-Pedagang telur ayam di pasar. Terdampak PPKM, harga telur di sejumlah daerah yang menjadi sentra produksi telur anjlok hingga Rp 14 ribu per kilogram. 

TRIBUNBEKASI.COM —  Asosiasi Peternak Layer Nasional berharap Pemerintah turut membantu kelangsungan bisnis para peternak telur di daerah yang menjadi sentra produksi telur ayam.

Salah satu upaya yang diharapkan adalah, agar telur ayam bisa masuk ke dalam paket bantuan sosial (bansos) pandemi Covid-19 untuk masyarakat. Maksud tujuan dari hal ini, untuk mengerek permintaan dan harga telur di pasaran.

“Upaya kita kepada pemerintah mengharapkan, supaya program bansos itu ada diberikannya paket telur 10 butir per keluarga,” ungkap Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional, Ki Musbar Mesdi, menjawab Tribunnews, Selasa (7/9/2021).

Seperti diketahui, harga telur ayam di sejumlah daerah mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Sebagai contoh, di Jawa Timur (Gresik dan Blitar), harga telur sempat berada pada level Rp14.000 per kilogram.

Musbar pun membenarkan hal tersebut. Menurutnya, harga telur ayam yang anjlok akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 hingga 4.

Musbar menjelaskan, pembatasan mobilitas telah mengganggu penyerapan telur dari kalangan peternak menuju kota-kota besar seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat sehingga stok telur ayam di wilayah-wilayah peternakan mengalami over stock.

Sebagai informasi, pangsa pasar para peternak telur di sejumlah daerah adalah industri di kota-kota besar yang bergerak di sektor Hotel, Restoran, dan kafe (Horeka). Namun, industri horeka kini sedang mengalami penurunan signifikan akibat pukulan pandemi Covid-19.

“(Penyebabnya) serapan turun. Karena kita ini masih PPKM Level 3-4, untuk daerah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Karena produksi nasional itu sekitar 50 persen diserap di sana,” papar Musbar.

“Untuk saat ini yang banyak menyerap adalah konsumsi rumah tangga dan industri rumah tangga. Nah, itu kan serapannya tidak sebesar horeka. Ini menyebabkan serapan telur turun,” sambungnya.

Sementara itu, dirinya juga mengeluhkan harga pakan ternak yang terus menjulang sejak awal tahun, yaitu saat ini berada di level Rp6.500 per kilogram.

Seharusnya, harga pakan ternak ini berada pada kisaran Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram.

Alangkah baiknya, menurut Musbar, Pemerintah melakukan impor bahan baku ternak agar harganya dapat kembali stabil.

“Bukan hanya harga telur turun, tapi harga pakan kita sekarang Rp6.500 per kilo, naik Rp2.000 dari 2019. Tapi harga jual (telur) tidak bisa menyesuaikan dengan naiknya harga pakan,” ucap Musbar.

“Tolong dong, kalau bisa diimporkan dari luar negeri atau bagaimana. Agar jagung ini kembali normal jadi Rp4.500 per kilo,” pungkasnya. (Tribunnews.com/Ismoyo)

 

 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved