Breaking News:

Berita Daerah

Emerson Yuntho Nilai Valentino Rossi Sulit Dapat SIM C di Indonesia karena Pungli Mengganas

Pegiat antikorupsi Emerson Yuntho prihatin lihat praktik pungli di Indonesia. Dia pun mengibaratkan Valentino Rossi sulit dapat SIM jika jalur resmi.

Istimewa
Ilustrasi - Pemerhati antikorupsi Emerson Yuntho prihatin pada praktik pungli yang mewabah di Indonesia, terutama saat pembuatan SIM. 

TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA - Pengurusan SIM dinilai sulit, Pegiat Antikorupsi Emerson Yuntho meyakini bahwa pebalap dunia sekelas Valentino Rossi pun sulit mendapatkan SIM C di Indonesia.

Hal itu Emerson tuangkan dalam surat dan petisinya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menteri Politik Hukum dan HAM Mahfud MD, dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Baca juga: Suneri Bersyukur Pemerintah Gelar PTM, karena Pikiran Terbelah saat Anak Belajar Daring

Dalam surat itu, Emerson mengaku sudah 20 tahun merasa resah dan prihatin dengan pelayanan publik di Indonesia.

Khususnya dengan Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) dan Satuan Administrasi SIM (SATPAS) yang hingga saat ini belum bebas dari praktik pungutan liar (pungli) dan percaloan.

Menurut Emerson, praktik pungli dan calo di SAMSAT dan SATPAS hampir merata terjadi di seluruh Indonesia.

"Sudah banyak keluhan disampaikan warga baik secara resmi atau melalui media sosial, jikapun keluhan ditindaklanjuti, namun perbaikan hanya berjalan semusim. Tidak lama pungli dan calo muncul kembali," kata Emerson dalam petisi yang ditulisnya, Selasa (14/9/2021).

Dalam petisi yang diunggah di Change.org itu, Emerson juga mengatakan bahwa warga seringkali dipaksa atau terpaksa melakukan tindakan melanggar hukum dengan cara menyuap atau memberikan uang (gratifikasi) kepada oknum petugas SAMSAT.

Baca juga: Data Sebaran Kasus Covid-19 di Kabupaten Bekasi, Hanya Tiga Kecamatan Ini Nihil Kasus Virus Corona

Di mana warga harus membayar sesuatu tidak semestinya dan tanpa bukti penerimaan yang sah.

Pun kata Emerson, praktik pungli dan percaloan juga terjadi dalam urusan pembuatan dan perpanjangan SIM di SATPAS.  

Dalam kepengurusan SIM itu, warga juga dianggap kerap mengeluhkan ujian teori yang tidak transaparan dan ujian praktik perolehan SIM yang dinilai tidak masuk akal. 

Halaman
12
Penulis: Desy Selviany
Editor: Valentino Verry
Sumber: Wartakota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved