Breaking News:

Berita Nasional

Menko Airlangga Sebut Smart Farming Tingkatkan Produktivitas Petani Milenial

Konsep smart farming 4.0 memberi jalan keluar bagi petani dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Editor: Ichwan Chasani
Dok Partai Golkar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga Ketua Umum Golongan Karya (Golkar), Airlangga Hartarto diberikan kain batik bermotif Mahkota Swastika oleh pelaku UMKM Saeful Ghofur (45), dalam acara dialog UMKM dan penyaluran KUR di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Jumat (24/9/2021). 

TRIBUNBEKASI.COM — Permasalahan pada sektor pangan selalu menjadi perhatian di setiap negara. Karena itu, pemerintah selalu berupaya memenuhi kebutuhan pangan rakyat dan menjaga ketahanan pangan, diantaranya melalui pemberdayaan petani, mendorong petani milenial, peningkatan produktivitas dan penggunaan teknologi.

Demikian diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat meninjau lokasi pertanian yang dikembangkan oleh petani milenial dengan konsep smart farming melalui penggunaan teknologi, dalam agenda kunjungan kerja di Klaten, Jawa Tengah, Jumat (24/9/2021).

"Program millenial smart farming merupakan ekosistem pemberdayaan milenial melalui pembinaan dan pengembangan ekosistem pertanian digital dari hulu ke hilir serta meningkatkan inklusi keuangan desa," ujarnya.

Program ini diantaranya bertujuan mengimplementasikan pertanian cerdas dengan penerapan digitalisasi pertanian dengan Internet of Things (IoT).

Kemudian, membentuk ekosistem pertanian dengan pembukaan akses pasar kepada petani, sehingga penghasilan petani terjamin serta mengoptimalkan inklusi keuangan perbankan di desa, dan memperkuat kelembagaan petani milenial yang dilakukan oleh berbagai stakeholder.

“Program milennial smartfarming diharapkan dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian dalam rangka untuk meningkatkan ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi nasional sebagai dampak adanya pandemi Covid-19,” pungkas Airlangga.

Sekadar informasi, konsep smart farming 4.0 memberi jalan keluar bagi petani dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Caranya adalah dengan menggunakan alat sensor dan aplikasi, yang memberikan informasi yang dapat membantu petani untuk meningkatkan produksi pertanian, termasuk mengurangi pemakaian pupuk dan air.

Konsep tersebut menjadi dasar menciptakan aplikasi mobile yang berbasis teknologi pertanian untuk membantu pencatatan sistem bertani, memilih pedoman budidaya, serta penanganan dan pengolahan pertanian yang baik.

Selain itu, meningkatkan efisiensi pertanian dengan lebih mudah dan hemat, tapi dapat menghasilkan panen secara maksimal, serta petani mudah dapat akses mitra dan pasar yang tepat. (Tribunnews.com/Yanuar Riezqi Yovanda)

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved