Breaking News:

Cegah Penyakit Jantung Sejak Dini, Segera Kurangi Faktor Risikonya

Faktor risiko penyakit jantung itu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor yang tidak bisa dimodifikasi dan yang bisa dimodifikasi.

Penulis: Ign Agung Nugroho | Editor: Ichwan Chasani
Warta Kota/Ign Agung Nugroho
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Radityo Prakoso, SpJP (K), FIHA di acara talkshow virtual bertajuk "Pola Makan Rendah Lemak Untuk Jantung Lebih Sehat Bersama Philips" baru-baru ini. 

TRIBUNBEKASI.COM — Penyakit jantung diyakini dapat dicegah sedini mungkin. Caranya adalah dengan menjalankan pola hidup sehat dan proteksi yang spesifik untuk mengurangi sejumlah faktor risiko.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Radityo Prakoso, SpJP (K), FIHA mengatakan bahwa rantai pencegahan yang pertama adalah promosi kesehatan. 

"Sasarannya adalah orang sehat agar faktor-faktor yang dapat dimodifikasi bisa dikurangi,” kata dokter Radityo di acara talkshow virtual bertajuk "Pola Makan Rendah Lemak Untuk Jantung Lebih Sehat Bersama Philips" baru-baru ini.

Dokter spesialis penyakit jantung dari Universitas Indonesia itu memaparkan, pada dasarnya faktor risiko penyakit jantung itu dapat dibedakan menjadi dua.

Pertama adalah faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan berikutnya faktor resiko yang dapat dimodifikasi. 

"Riwayat keluarga, usia, dan jenis kelamin termasuk ke dalam faktor risiko yang tidak dapat dihindari," ujar dokter Radityo.

Menurutnya, anggota keluarga yang menderita penyakit jantung, besar kemungkinan menurunkan risiko tersebut kepada anaknya.

Selain itu, semakin seseorang bertambah usia maka risiko penyakit jantung koroner pun semakin besar.

Data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) 2019 menyebutkan penyakit jantung koroner (ischaemic heart disease) menjadi jenis penyakit jantung yang tertinggi di dunia dengan proporsi 46 persen terjadi pada laki-laki dan 38 persen pada perempuan.

"Kasus kejadian pada perempuan agak sedikit berkurang karena mereka memiliki faktor proteksi menstruasi sementara paparan risiko pada laki-laki lebih besar karena tidak memiliki faktor proteksi," katanya.

Halaman
123
Sumber: Wartakota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved