Berita Karawang

Kisah Desa Mulyasari Karawang Tanamkan Kembali Budaya Jaman Dulu yang Hampir Punah

Se-Indonesia hanya ada lima desa yang mendapatkan penghargaan desa budaya tersebut, termasuk Desa Mulyasari Karawang.

Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Ichwan Chasani
TribunBekasi.com/Muhammad Azzam
Desa Mulyasari, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). 

TRIBUNBEKASI.COM KARAWANG — Desa Mulyasari, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Penghargaan itu diraih atas penilaian dari penguatan karakter, akumulasi pengetahuan yang menyangkut kekayaan budaya, serta kepemimpinan termasuk di dalamnya nilai gotong royong.

Kasi Kesejahteraan Desa Mulyasari, Syaepul mengatakan Kemendikbudristek memberikan penghargaan kepada Desa Mulyasari tentang budaya desa.

Se-Indonesia hanya ada lima desa yang mendapatkan penghargaan tersebut, termasuk Desa Mulyasari Karawang.

Baca juga: Lestarikan Budaya yang Hampir Punah, Desa Mulyasari Raih Penghargaan dari Kemendikbudristek

"Jadi Se-Jabar hanya cuman Desa Mulyasari yang mewakili Provinsi Jawa Barat. Kita sangat senang bangat, apalagi ini baru tujuh bulan kepemimpinan baru kepala desa Margono," kata Syaepul, saat ditemui di Kantor Desa Mulyasari pada Sabtu (19/12/2021).

Dia melanjutkan Des Mulyasari membangun kembali budaya lama yang hampir punah. Bahkan pada saat proses penilaian desa mengadakan hajat bumi tiga hari tiga malam di kantor desa dengan mengusung tema Mulyasari Samakta singkatan Sarasa Bumela Ka Rahayat Jeung Nagara pada 14-16 Oktober 2021.

Pada acara itu, diadakan ruwatan, festival dongdang, lisungan dan perlombaan permainan anak tradisional seperti bermain karet, kelereng, gangsing.

mulyasari-19desB
Desa Mulyasari, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

"Jadi budaya itu dari masyarakat ditampilkan di desa untuk menjadi bahan acuan aset yang lebih bagus lagi dari budaya yang sudah punah kita hidupkan kembali," beber dia.

Syaepul menambahkan respon masyarakat terkait menghidupkan kembali budaya yang hampir itu disambut antusias.

Masyarakat hingga tokoh agama, pemuda dan masyarakat juga mendukung upaya pemerintah desa untuk menghidupkan kembali kebiasaan atau budaya yang hampir punah tersebut.

"Intinya masyarakat gembira dengan semangat dan hebohnya semua dalam mengikuti, begitu pula tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda juga sangat antusias," imbuh dia.

Baca juga: Tuntut Revisi Perpres 104, Ratusan Kepala Desa di Karawang Datangi Istana Negara

Dia menyebut kegiatan itu akan menjadi agenda rutin di wilayahnya. Bahkan akan ditularkan ke anak-anak keturunan agar tetap mengenali budaya-budaya itu dan bisa mempertahankannya.

"Akan diluncurkan lagi kepada masyarakat, dan jadi agenda rutin setiap tahunnya. Agar anak cucu kita yang akan mewarisi budaya ini yang adat budaya yang dulu punah dihidupkan kembali," tandas dia.

Sebelumnya, Kemendikbudristek memberikan penghargaan sebagai apresiasi pemerintah terhadap warga dan pemerintah desa yang membuat lompatan besar dalam menggerakkan ekosistem budaya di daerahnya.

Baca juga: Warga di Desa Pantai Bahagia Mengaku Menderita Selalu Hidup Berdampingan Banjir

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved