Breaking News:

Berita Kesehatan

Ayo Segera Kenali Diabetes Melitus dan Cegah Komplikasinya  

Seseorang tidak langsung menjadi diabetes. Hal itu, dimulai dari normal menjadi prediabetes lalu diabetes.

Penulis: Ign Agung Nugroho | Editor: Ichwan Chasani
dok. Good Doctor
Ilustrasi - Pengecekan gula darah secara mandiri. 

TRIBUNBEKASI.COM — Penyandang diabetes melitus (DM) atau dikenal dengan sebutan penyakit kencing manis, lebih mungkin mengalami komplikasi serius akibat Covid-19.

Terkait hal itu, dr. Rulli Rosandi, SpPD-KEMD, dokter spesialis penyakit dalam dari Good Doctor mengimbau penyandang DM dan juga masyarakat untuk tetap terus meningkatkan upaya menjaga kesehatan guna membantu mengurangi risiko tertular virus. 

"Secara umum, penyandang diabetes lebih cenderung memiliki gejala dan komplikasi yang lebih parah ketika terinfeksi virus apa pun," kata dokter Rulli dalam webinar #GoodKnowledgeGoodHealth bekerja sama dengan LSPR Communication & Business Institute baru-baru ini.

Ia memaparkan, DM adalah gangguan metabolisme yang ditandai oleh kenaikan kadar gula darah akibat gangguan dalam produksi insulin, dan atau gangguan fungsi insulin.

Baca juga: Penderita Diabetes 25 Kali Lipat Berisiko Alami Kebutaan, JEC Ungkap Cara Pencegahannya

DM memiliki beberapa gejala, yaitu (1) sering buang air kecil terutama pada malam hari, (2) cepat merasa lapar dan dahaga, (3) berat badan menurun sebaliknya nafsu makan bertambah, (4) cepat merasa lelah dan ngantuk, (5) mudah timbul bisul atau abses dengan kesembuhan yang lama, (6) gatal-gatal terutama pada kelamin bagian luar, (7) kesemutan, (8) gairah seks menurun, (9) penglihatan kabur, ditandai dengan seringnya berganti ukuran kacamata, dan (10) ibu yang melahirkan bayi lebih dari 4 kg.

"Untuk menentukan seseorang diabetes, orang itu harus memeriksakan kadar gula darahnya, tidak bisa hanya berdasarkan gejalanya," kata dokter Rulli.

Menurutnya,  seseorang tidak langsung menjadi diabetes. Hal itu, dimulai dari normal menjadi prediabetes lalu diabetes.

"Seseorang dikatakan diabetes apabila gula darah puasa (GDP) ≥ 126 mg/dl, gula darah post pembebanan glukosa (GDPP) 200 mg/dl, dan Hba1C ≥ 6,5 persen," katanya.

Baca juga: Tidak Ada Pantangan, Begini Pola Makan yang Baik Bagi Pengidap Diabetes Menurut dr Martha Rosana

Pasien DM Meningkat
Mengacu data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional,  pasien diabetes di Indonesia terus meningkat.

Pada 2007 persentase-nya sebesar 5,7 persen meningkat menjadi 6,9 persen (2013) lalu meningkat lagi menjadi 10,9 persen (2018). 

Halaman
1234
Sumber: Wartakota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved