Breaking News:

Berita Bekasi

Kembali Gagal Dimediasi, Dua Anak Kandung Rodiah yang Ribut Karena Warisan Ditahan Kejaksaan

Kasi Pidum Kejari Kabupaten Bekasi, Taufiq Akbar sebut kasus yang bergulir sejak 2019 itu telah memenuhi unsur pidana secara subjektif maupun objektif

Penulis: Rangga Baskoro | Editor: Ichwan Chasani
TribunBekasi.com/Rangga Baskoro
Anak pertama Rodiah, SS saat ditahan oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi. 

TRIBUNBEKASI.COM, CIKARANG — Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi melakukan proses mediasi atas kasus cekcok warisan yang melibatkan Hj Rodiah (72) dan lima orang anak kandungnya, Rabu (22/12/2021) kemarin.

Ada pun mediasi tersebut digelar dalam rangka upaya restorative justice terhadap kasus yang dilaporkan oleh pihak Rodiah atas masalah perusakan mobil yang dilakukan oleh anak pertama dan ketiga Rodiah, yakni SS dan SF pada 2019 lalu.

"Kejaksaan kan punya kewenangan buat RJ, sebelum tahap ke dua diterima sama kejaksaan," ungkap Kuasa Hukum Rodiah, Muhammad Sirot saat dikonfirmasi, Kamis (23/12/2021).

Saat itu, diketahui SS dan SF mendatangi rumah Rodiah dan melemparinya dengan batu sehingga mobil milik anak kedua Rodiah, Muhammad Saogi, mengalami kerusakan. SS dan SF menuding bahwa Rodiah membelikan Saogi mobil dari hasil menggadaikan sertifikat tanah warisan.

Baca juga: Berulangkali Gagal Mediasi, Kasus Ribut Soal Warisan Rodiah dan Anaknya Diharapkan Ditengahi Peradi

Tak terima mobil yang dibelinya sendiri rusak, Saogi kemudian melaporkan kasusnya ke Polsek Cibarusah hingga kasusnya kini telah memasuki proses tahap dua di Kejari Kabupaten Bekasi.

"Itu mobil punya Saogi, bukan warisan, berdasarkan putusan pengadilan agama, mobil itu bukan harta warisan, itu milik Saogi. Makanya yang melapor Saogi," kata Sirot.

Namun saat dipertemukan oleh SS dan SF, Rodiah menolak itu berdamai karena telah sakit hati kepada lima orang anaknya yang menuntut harta warisan lebih banyak, meski pembagiannya telah diatur dalam keputusan pengadilan agama.

Rodiah mengaku selama ini kerap menerima perlakuan tak pantas dari kelima anaknya. Begitu pula Saogi sebagai pelapor kasus pengrusakan mobil, yang tak terima ibu kandungnya diperlakukan semena-mena oleh SS yang merupakan kakak pertamanya, serta 4 orang adiknya yang lain.

"Pelapor dan terlapor ini ditanya mau enggak didamaikan, 'saya sudah kesal, waktu di pengadilan agama sudah didamaikan tapi gagal, sidangnya lanjut terus. Di polsek sudah dua kali didamaikan tapi enggak mau juga, bahkan ada kapolsek, bu lurah dan tokoh agama pada hadir, enggak mau lagi'. Jadi Hj Rodiah enggak mau damai, 'sampai kiamat pun enggak mau, hati saya kesal sudah diancam mau dibunuh dari awal', begitu katanya," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Kabupaten Bekasi, Taufiq Akbar menuturkan kasus yang bergulir sejak 2019 tersebut, telah memenuhi unsur pidana secara subjektif maupun objektif.

Baik SS maupun SF terbukti melakukan perusakan mobil sehingga keduanya dilakukan penahanan lantaran gagalnya proses mediasi.

"Hari ini kami menerima tersangka dan barang bukti, penyerahan tahap dua, atas nama Sonya Susilawati dan Syarif Fadillah, keduanya disangkakan Pasal 170 ayat 1 dengan ancaman pidana 5 tahun 6 bulan dan Pasal 406 juncto 55. Hari ini para terdakwa kami lakukan penahanan karena sudah memenuhi persyaratan subyektif dan objektif," kata Taufiq.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved