Breaking News:

Berita Nasional

Epidemiolog UGM Nilai Keputusan Pemerintah Tambah Durasi Karantina Sudah Tepat

Pelaku perjalanan dari luar negeri yang awalnya harus menjalani karantina selama 3-5 hari, nantinya wajib menjalani karantina 10-14 hari.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Ichwan Chasani
Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri
Tangkap Layar - Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Satria Wiratama yang dikutip dari YouTube BNPB pada Kamis (23/12/2021). 

TRIBUNBEKASI — Keputusan pemerintah untuk menambah durasi karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri dinilai sudah tepat di tengah maraknya penyebaran secara global virus Covid-19 varian Omicron.

Pelaku perjalanan dari luar negeri yang awalnya harus menjalani karantina selama 3-5 hari, nantinya wajib menjalani karantina 10-14 hari menyusul adanya varian Omicron.

“Saya rasa langkah pemerintah untuk menambah hari karantina sudah cukup tepat, mengingat sekarang mulai ada varian baru yaitu Omicron,” kata epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Satria Wiratama yang dikutip dari YouTube BNPB pada Kamis (23/12/2021).

Selain karantina, pemerintah juga mewajibkan adanya tes PCR selama dua kali ketika datang ke lokasi karantina terpusat, maupun pulang ke rumah.

Baca juga: Kasus Omicron Bertambah, Pemerintah Perketat Pintu Masuk Negara

Dia meyakini, langkah ini mampu menskrining para pelaku perjalanan dari luar negeri, sehingga varian Omicron betul-betul terdeteksi.

“Jadi dapat dipastikan bahwa yang masuk (Indonesia) itu benar-benar berisiko rendah. Namun yang perlu diperhatikan adalah konsistensi pengawasannya dalam melakukan karantina,” jelasnya.

Menurut dia, sebagus apapun fasilitas karantina namun, jika pengawasannya tidak ketat, potensi penyebaran Covid-19 antarpenghuni tetap tinggi. Potensi penyebaran Covid-19 ini dapat terjadi bagi mereka yang tidak dikarantina terpusat.

“Jadi mereka yang karantina di hotel, atau di tempat pribadi, itu hal-hal yang cukup riskan untuk terjadi kebobolan karantina. Kunci dikarantina itu memastikan mereka benar-benar tidak kontak dengan siapapun sampai mereka dipastikan tidak terkena Covid-19, berdasarkan hasil tes kedua sebelum pulang,” imbuhnya.

Karena itu, Bayu menilai karantina terpusat hendaknya lebih diutamakan. Terutama bagi pelaku perjalanan yang datang dari negara dengan kasus Omicron cukup tinggi.

“Mau siapapun yang datang ke Indonesia kalau bisa mereka semua karantina terpusat, bukan di hotel. Karena karantina terpusati itu kan paling bagus pengawasannya,” ucapnya.

Sumber: Wartakota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved