Breaking News:

Berita Bisnis

Bisnis Bioskop Dinilai Tak Bisa Bikin Industri Perfilman Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Benny Benke menganggap kesulitan itu mengacu kepada bisnis perfilman yang diduga masih dikuasai para pemangku bisnis yang memiliki jaringan bioskop.

Penulis: Arie Puji Waluyo | Editor: Ichwan Chasani
Warta Kota/Arie Puji Waluyo
Wartawan senior dan pengamat perfilman, Benny Benke. 

TRIBUNBEKASI.COM — Wartawan senior dan pengamat perfilman, Benny Benke menilai slogan menjadikan film Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri cukup sulit untuk direalisasikan. 

Benny Benke menganggap kesulitan itu mengacu kepada bisnis perfilman yang diduga masih dikuasai oleh para pemangku bisnis yang memiliki jaringan bioskop. 

"Pemilik jaringan bioskop Indonesia mengklaim mereka murni adalah swasta. Tidak ada campur tangan pemerintah dalam bisnis bioskop ini," kata Benny Benke kepada Wartakotalive, jaringan berita TribunBekasi.com, baru-baru ini. 

"Hal itu lah yang jadi sulit untuk industri perfilman Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri," tambahnya. 

Benny menduga monopoli bisnis bioskop yang menjadi akar dari permasalahan. Sebab, setiap film sulit mendapat banyak layar karena kalah dengan film import atau film hollywood dan sebagainya masih menguasai layar diseluruh bioskop Indonesia. 

Baca juga: Titi Kamal Ungkap Kebahagiaan, Film Makmum 2 Jadi Film Bioskop Terlaris Tahun 2021

"Importir film ini merasa film miliknya (film hollywood yang dibeli) adalah punyanya sendiri. Sehingga mereka layak didahulukan untuk mendapat banyak layar di seluruh bioskop, yang notabene memiliki lebih dari 1500 layar," ucapnya. 

Karena tidak ada subsidi dari Pemerintah, pemilik jaringan bioskop yang juga menjadi importir film tentu mengedepankan film-film luar ketimbang film Indonesia, demi kepentingan bisnis. 

"Permasalahan pembagian layar adalah hal paten di Indonesia. Jaringan bioskop mengklaim dirinya swasta. Mereka menghidupi bisnisnya sendiri, bayar listrik sendiri, kebersihan, pegawai bioskop, dan semuanya sendiri," jasnya. 

"Karena hal itulah film import tentu didahulukan dalam bisnis ini," sambungnya. 

Benny menyebut jaringan bioskop menentukan banyak layar pada sebuah film yang akan tayang, melihat sisi siapa rumah produksinya, kualitas film, hingga artis yang bermain di film tersebut. 

Baca juga: Perankan Mahasiswa Pelaku Pelecehan di Film Terbarunya, Sani Fahreza Siap Dibenci Penonton

Halaman
12
Sumber: Wartakota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved