Mudik Lebaran

KPPB Ingatkan Ancaman Invisible Killer dalam Kemacetan Mudik Lebaran

Kemacetan lalu lintas yang parah tanpa disadari menghadirkan invisible killer bagi penumpang kendaraan.

Tribun Bekasi/Muhammad Azzam
Kemacetan lalu lintas yang parah tanpa disadari menghadirkan invisible killer bagi penumpang kendaraan. Keterangan foto: (ilustrasi) Arus lalu lintas di Jalan Tanjung Pura, Karawang, padat merayap baik di arah yang menuju ke Klari hingga Cikampek dan arah Jakarta pada Jumat (6/5/2022) malam. 

TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA - Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) mengingatkan bahaya emisi gas buang kendaraan yang mengancam pemudik.

Organisasi non-pemerintah ini melihat animo masyarakat sangat tinggi untuk mudik lebaran menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM), sehingga pencemaran udara akan meningkat.

Kemacetan lalu lintas yang terjadi selama musim mudik ini tanpa disadari membuat para pemudik tercemar zat-zat pencemar udara.

Efek zat pencemar

Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin mengatakan, gas buang kendaraan bermotor mengandung berbagai macam bahan beracun. Mulai dari Particulate Matter (PM), Sulfur Dioxide (SO2), Nitrogen Dioxide (NO2), Carbon Monoxide (CO), Ozone (O3), Hydro Carbon (HC) dan sebagainya.

Umumnya, ukar pria yang akrab disapa Puput ini, zat-zat polutan udara ini langsung memengaruhi sistem pernafasan, pembuluh darah, sistem saraf, hati, dan ginjal, dan menimbulkan gejala pusing-pusing, mual, penyakit/sakit ISPA, astma, dan tekanan darah tinggi.

Bahkan di tingkat yang lebih parah, kandungan beracun itu bisa membawa penyakit dalam seperti gangguan fungsi ginjal, kerusakan pada sistem syaraf, penurunan kemampuan intelektual (IQ) anak-anak, kebrutalan pada remaja, keguguran, impotensi, penyakit jantung coroner (coronary artery dieses), kanker, dan kematian dini.

Tragedi Brexit

“Tentunya kami tidak berharap tragedi invisible killer (pembunuh tak tampak) yang membunuh para pemudik tahun 2016 terulang kembali di tahun ini. Invisible killer membunuh (terutama CO) tanpa terlihat, tidak berbau, sehingga calon korban terbuai dengan rasa kantuk yang kemudian tertidur dan tidak pernah bangun kembali,” kata Safrudin pada Sabtu (7/5/2022).

Safrudin bercerita, fenomena seperti ini pernah terjadi pada arus mudik pada lebaran Idulfitri 1437H atau tahun 2016. Saat itu 17 orang meregang nyawa dengan gejala akibat keracunan emisi CO dan paparan parameter lain yang diemisikan kendaraan bermotor.

“Angka ini terlalu banyak dan mereka yang meninggal dunia ini bukan karena kejadian tabrakan, terguling, tertabrak dan atau kecelakaan benturan fisik kendaraan bermotor. Melainkan meninggal dunia akibat terpapar emisi kendaraan karena terjebak kemacetan berjam-jam selama perjalanan mudik lebaran. Terutama di pintu keluar Tol Brebes (Brexit),” kata Safrudin.

Berdasarkan data dari kepolisian, jumlah kendaraan yang melintas di Jalan Raya Pantura pada Kamis (5/5/2022) mencapai 66.455 kendaraan. Rinciannya, 54.302 motor, 10.585 mobil, 1.115 angkutan barang, dan 453 bus.

Sedangkan pada Jumat (6/5/2022) hingga pukul 09.00, jumlah kendaraan yang melintas mencapai 23.016 unit. Rinciannya 16.208 motor, 4.474 mobil, 1.878 angkutan barang, dan 456 bus.

Sementara itu PT Jasa Marga (Persero) mencatat ada 1.157.959 kendaraan yang telah keluar wilayah Jabodetabek dan 372.048 kendaraan melalui Tol Jakarta-Cikampek (Japek) pada H-10 sampai H-4 lebaran.

Sumber: Wartakota
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved