Berita Internasional

Tiga Minggu Bersembunyi di Bunker, Seorang WNI Berhasil Lolos dari Ukraina: Antara Hidup dan Mati

Pria bernama Iskandar, seorang WNI berhasil lolos dari Ukraina setelah terjebak di tengah invasi Rusia.

Editor: Panji Baskhara
AFP/Sergei Supinsky
Pria bernama Iskandar, seorang WNI berhasil lolos dari Ukraina setelah terjebak di tengah invasi Rusia. Foto: Personel militer Ukraina ambil bagian dalam latihan perang di wilayah Zhytomyr pada 21 November 2018. 

TRIBUNBEKASI.COM - Hingga saat ini, perang Rusia-Ukraina terus menimbulkan sejumlah dampak besar.

Bahkan, berdampak juga terhadap warga negara Indonesia (WNI) di Ukraina dampak invasi Rusia tersebut.

Namun Iskandar, seorang WNI berhasil lolos dari Ukraina setelah terjebak di tengah invasi Rusia sejak akhir Februari, lalu.

Pekerja pabrik tersebut pun memperhitungkan peluangnya untuk bertahan hidup hanya 10 persen.

Baca juga: Presiden Jokowi Sebut Presiden Rusia Vladimir Putin Hadiri KTT G20 di Indonesia: Beliau akan Hadir

Baca juga: Depok Kesulitan Buang Sampah ke Bogor, Wali Kota Mengaku Penyebabnya adalah Perang Rusia-Ukraina

Baca juga: Rencana Demo Mahasiswa, Menkominfo Sebut Pemerintah sedang Fokus Atasi Dampak Perang Rusia-Ukraina

Iskandar menghabiskan tiga minggu bersembunyi di pabrik Chernihiv saat kedutaan Indonesia susun beberapa rencana penyelamatan.

“Saya hanya memiliki sedikit harapan bahwa saya akan hidup, dari garis antara hidup dan mati,” kata Iskandar, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Iskandar telah bekerja sebagai petugas kontrol kualitas di sebuah pabrik plastik Ukraina sejak tahun 2017.

Dia mengatakan, berasal dari kota Binjai, Sumatera Utara, Indonesia.

Iskandar, yang berbasis di kota utara Chernihiv, pertama kali mengetahui tentang invasi di YouTube pada pagi hari tanggal 24 Februari, ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan "operasi militer khusus" untuk "demiliterisasi dan de-Nazifikasi" Ukraina.

“Setelah video hampir selesai (diputar), penembakan dimulai,” kata Iskandar.

Sembilan pekerja Indonesia pabrik, dua rekan Nepal mereka dan seluruh staf Ukraina berkumpul di lantai pabrik, bertanya-tanya apa yang harus mereka lakukan.

“Semua orang pucat dan tekanannya bisa diraba. Aku bahkan tidak bisa tersenyum, dan kami mulai panik."

Iskandar akhirnya dievakuasi dari pabrik plastik setelah tiga minggu, naik van ke Kyiv dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Lviv.

 

 

"Bos kami menyuruh kami mematikan mesin. Kami hanya meringkuk di sana dan mendengarkan suara roket yang terbang di atas kepala,” kata ayah empat anak itu kepada Al Jazeera.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved