Berita Kriminal

Kasus Rudapaksa Balita di Karawang, Asosiasi Advokat Indonesia Mengaku Tak Puas dengan Putusan Hakim

Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) mendesak agar terdakwa kasus rudapaksa balita berinisial MRD (20) di Kabupaten Karawang dihukum kebiri kimia.

Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Panji Baskhara
Istimewa
Ilustrasi: Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) mendesak agar terdakwa kasus rudapaksa balita berinisial MRD (20) di Kabupaten Karawang dihukum kebiri kimia. 

"dan setelah menjalani masa tahanan selama 15 tahun itu harus di kebiri selama dua tahun, dan harusnya hukum kita melakukan ini," beber dia.

Dikatakannya, hukuman ini bukan untuk balas dendam, tetapi untuk langkah preventif yang harus diambil penegak hukum apabila tidak mau terjadi lagi seperti ini.

Ketua Majelis Hakim Melda Lolyta Sihite menyatakan terdakwa secara sah dan menyakinkan melanggar Pasal 82 ayat 1 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UURI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang.

"Terdakwa diputus 11 tahun penjara dan denda Rp 100 juta atau subsider penjara 6 bulan" katanya di persidangan.

Dalam pembacaan putusan tersebut, majelis hakim menuturkan dari hasil visum yang dilakukan di RSUD Karawang membuktikan kalau terdakwa memang bersalah.

"Visum yang dilakukan di RSUD Karawang pada Oktober 2021. Diperoleh hasil terdapat lecet pada bibir korban dan robekan pada selaput dara."

"Robekan tersebut tidak sampai dasar. Dua luka itu karena kekerasan benda tumpul," katanya Melda didampingi hakim anggota Dedi Irawan dan Seti Handoko.

Akibat perilaku bejat terdakwa, korban yang masih berusia empat tahun mengalami trauma berkepanjangan.

Putusan hakim ini selisih beberapa tahun dari tuntutan Jaksa.

Jaksa dari Kejaksaan Negeri Karawang Nurhaqiqi pada sidang sebelumnya menuntut 13 tahun penjara kepada terdakwa.

Setelah vonis dibacakan, terdakwa didampingi kuasa hukumnya meminta waktu untuk pertimbangkan, apakah akan menerima vonis hakim atau mengajukan banding.

Majelis hakim memberi waktu satu minggu.

Atas putusan hakim itu, pihak keluarga mengapresiasinya.

Putusan hakim dinilai maksimal atau tidak jauh dari tuntutan jaksa 13 tahun.

"Kami bersyukur, pelaku dapat hukuman setimpal. Walaupun tetap itu sangat membuat kami terpukul dan anak kami trauma," katanya.

(TribunBekasi.com/MAZ)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved