Berita Kriminal

Merasa Tak Puas dengan Putusan Hakim, Asosiasi Advokat Indonesia Minta Pemerkosa Bayi Juga Dikebiri

Ketua Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Yonathan Andre Baskoro mengatakan, predator anak di Kabupaten Karawang harus dihukum secara berat

Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Dedy
TribunBekasi.com/Muhammad Azzam
Suasana sidang vonis terdakwa MRD (20) kasus pemerkosaan balita di Pengadilan Karawang, pada Selasa (14/6/2022). Terdakwa divonis 11 tahun penjara dan denda Rp 100 juta atau subsider 6 bulan penjara. 

TRIBUNBEKASI.COM, KARAWANG --- Persidangan kasus pemerkosaan balita di Karawang, Jawa Barat, berakhir sudah.

Pelaku terdakwa MRD (20) akhirnya divonis oleh majelis hakim dengan hukuman 11 tahun penjara.   

Menanggapi putusan hakim tersebut, pihak Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), merasa tidak puas terhadap putusan atau vonis 11 tahun penjara untuk terdakwa MRD.

Maka, pihak AAI pun mendesak agar terdakwa itu juga dijatuhkan hukuman kebiri.

Baca juga: Terdakwa Pemerkosa Balita di Karawang Divonis 11 Tahun Penjara dan Denda Rp 100 Juta

Baca juga: Komnas PA Minta Polisi Jangan Takut Jerat Pelaku Pelecehan Anak dengan Hukuman Mati atau Kebiri Saja

Ketua Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Yonathan Andre Baskoro mengatakan, predator anak di Kabupaten Karawang harus dihukum secara berat seperti kebiri.

Hal itu perlu dilakukan, agar pelaku kekerasan seksual, MRD (20) jera atas perbuatan bejatnya.

"Kami rasa kurang tegas hanya dibui 11 tahun penjara, harus juga dihukum kebiri," ujarnya, pada Kamis (23/6/2022).

Menurut dia, maraknya kasus predator anak salah satu penyebabnya karena faktor hukuman yang diberikan tidak setimpal.

Mengingat peristiwa serupa seringkali terjadi.

BERITA VIDEO : AYAH PEMERKOSA ANAK KANDUNG DI DEPOK DITANGKAP POLISI

"Kalau kita tarik kebelakang kenapa sampulnya bisa terulang, itu ternyata dari perspektif hukum kita lihat jauh dri kata jera, karena hukumannya bisa di tawar dengan berbagai pertimbangan segala macam," ucapnya

Apalagi, korban pelecehan seksual ini masih balita dan korban akan memiliki traumatis mendalam.

Bahkan, akan sangat sulit untuk menjalani proses kehidupan dalam tumbuh kembangnya.

"Saya tegaskan lagi vonis 11 tahun, ini jauh dari harapan seluruh bangsa, dimana ini korban anak di bawah umur, itu masa depannya bisa dibilang hancur seketika," tegasnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved