Berita Nasional

Alasan Ketua Dewan Pembina APPKSI Mendesak Pemerintah untuk Segera Menghapus Pungutan Ekspor CPO

Ketua Dewan Pembina APPKSI, Arief Poyuono minta pemerintah hapus pungutan ekspor CPO yang mencapai 55 persen dari harga ekspor CPO.

Editor: Panji Baskhara
Tribun Kaltim/Fachmi Rachman
Ilustrasi - Ketua Dewan Pembina APPKSI, Arief Poyuono minta pemerintah hapus pungutan ekspor CPO yang mencapai 55 persen dari harga ekspor CPO. 

TRIBUNBEKASI.COM - Pemerintah diminta agar pungutan ekspor CPO yang mencapai 55 persen dari harga ekspor CPO, untuk segera dihapus.

Permintaan itu dilontarkan langsung oleh Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Plasma Kelapa Sawit Indonesia (APPKSI), Arief Poyuono.

Di mengatakan, pihaknya meminta kepada pemerintah agar pungutan ekspor CPO yang mencapai 55 persen dari harga ekspor CPO harus dihapus.

Pasalnya kebijakan tersebut justru membebani petani sawit dan dari pungutan ekspor tidak perlu lagi mensubsidi industri biodiesel karena harga CPO sudah lebih mahal dari Crude Oil (minyak fosil).

Baca juga: Kerap Beraksi di Duren Sawit Hingga Melukai Korban, Polisi Ciduk Tiga Pelaku Begal

Baca juga: Massa Petani Kelapa Sawit, Demo Kantor Airlangga Desak Cabut Larangan Ekspor

Baca juga: Berikut Ini Laporan dari Sawit Watch yang Hingga Kini Belum Ditanggapi KPK Hingga KLHK

Arief mengatakan, tata kelola CPO dan turunannya telah meyebabkan nasib kami para petani plasma sawit yang jumlahnya puluhan juta dan stake holder industri sawit makin tidak jelas.

Dengan DMO dan DPO harus dicabut karena persulit ekspor CPO yang mana akhirnya menyebabkan over stock di tangki tangki penimbunan CPO di pabrik-pabrik kelapa sawit.

Arief menjelaskan, semua ini memberatkan kehidupan petani sawit.

Hal itu disebabkan karena pungutan ekspor CPO yang mencapai 55 persen dan aturan Domestic Market Obligation dan Domestic Price Obligation.

Selain itu, setelah ekspor CPO diijinkan kembali membuat harga tandan buah segar jatuh hingga 200 persen dari harga saat sebelum ada pelarangan ekspor CPO.

"Seperti kita ketahui bahwa Indonesia mendominasi produksi lemak dan minyak nabati dunia. Minyak kelapa sawit negara ini menyumbang sekitar 60 persen dari produksi minyak global,"

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved