Berita Nasional

Apa Dampak Buruk Kebijakan Pungutan Ekspor CPO? Berikut Ini Penjelasan Ketua Umum APPKSI

Dampak buruk kebijakan pungutan ekspor CPO ini diungkap Ketua Umum Asosiasi Petani Plasma Kelapa Sawit Indonesia (APPKSI), Muhamadyah.

Editor: Panji Baskhara
Tribun Kaltim/Fachmi Rachman
Ilustrasi - Petani kelapa sawit di Sepaku, Penajam Paser Utara, tengah mengangkut hasil kebun sawitnya. 

TRIBUNBEKASI. COM - Adanya kebijakan pungutan ekspor (Levy) minyak sawit, dapat merugikan industri perkebunan sawit.

Bahkan, pungutan ekspor CPO ini turut berdampak buruk pada ekonomi Indonesia, secara keseluruhan.

Dampak buruk kebijakan pungutan ekspor CPO ini diungkap oleh Ketua Umum Asosiasi Petani Plasma Kelapa Sawit Indonesia (APPKSI), Muhamadyah. 

Kata Muhamadya, kebijakan pungutan ekspor yang dilakukan secara tak langsung (specific-levy) akan menaikkan harga CPO dunia.

Baca juga: Alasan Ketua Dewan Pembina APPKSI Mendesak Pemerintah untuk Segera Menghapus Pungutan Ekspor CPO

Baca juga: Polemik CPO, Pendemo Dukung Langkah Presiden Jokowi Hingga Kejagung RI

Baca juga: Jokowi Perbolehkan Lagi Ekspor CPO dan Minyak Goreng, Kok Bisa?

Namun menurunkan harga CPO/TBS domestik.

Sehingga, menciptakan disparitas harga CPO dunia dengan harga CPO domestik.

Kebijakan yang demikian akan merugikan produsen CPO/TBS domestik

Termasuk juga petani sawit yang ada pada 190 kabupaten di Indonesia.

"Industri biodisel domestik diperkirakan menikmati manfaat ganda yakni makin murahnya harga bahan baku (CPO) dan
subsidi dari pungutan ekspor."

"Namun secara keseluruhan Indonesia dirugikan," kata Muhamadyah, pada Senin (11/7/2022) dalam keterangan tertulisnya.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved