Berita Daerah

Perusahaan Tambang Emas Digaris Polisi, Sejumlah Karyawan Resah Mengaku Belum Diupah Tiga Bulan

Garis polisi membuat terhentinya perusahaan tambang emas di Ketapang, Kalimantan Barat hingga para karyawan belum diupah selama tiga bulan.

Editor: Panji Baskhara
Kolase TribunBekasi.com/Istimewa
Sebuah pabrik milik perusahaan tambang emas di kawasan Ketapang, Kalimantan Barat digaris polisi dan berdampak belum diupahinya sejumlah karyawan selama tiga bulan. 

TRIBUNBEKASI.COM - Sebuah perusahaan tambang emas di kawasan Ketapang, Kalimantan Barat diketahui tidak lagi beroperasional.

Hal ini membuat sejumlah karyawannya resah, lantaran saat ini perusahaan tempat mereka bekerja digaris polisi.

Antonius, seorang karyawan di perusahaan tambang emas itu mengaku sudah bekerja sejak tahun 2019 yang lalu.

Namun, tiga bulan terakhir ini perusahaan tersebut belum mengupahinya lantaran operasionalnya terhenti total.

Baca juga: Olah TKP di Rumah Singgah Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo Rampung, Polisi Lepas Garis Polisi

Baca juga: Adiknya Ditahan Setelah Karyawan Gelapkan Lahan Tambang Batubara, Pihak Keluarga Datangi Kejagung RI

Baca juga: Ditawari Bisnis Tambang di Papua, Ini yang Dilakukan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan Setelahnya

Selain operasional perusahaan tambang emas itu terhenti, sejumlah fasilitas tambang masih dipasang garis polisi.

"Dampak dari tidak operasi, sudah tiga bulan terakhir ini saya bersama karyawan lainya belum menerima upah"

"Sehingga hutang menumpuk. Saya berharap kepada Pak Kapolri (Jenderal Listyo Sigit Prabowo) untuk membuka garis polisi"

"Agar bisa kembali beroperasi," ujar Antonius dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (20/7/2022).

Hal senada juga diungkapkan Sumiran.

Dia sudah tiga bulan terakhir ini belum menerima upah dari perusahaan tempat ia bekerja tersebut.

Akibatnya hutang di toko banyak dan kredit barang di leasing terjadi gagal bayar.

Ia meminta kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan Kapolri pada Rabu (20/7/2022) untuk bisa membuka garis polisi di perusahaan itu.

"Saya minta garis polisi segera dibuka, supaya perusahaan bisa kembali beroperasi dan upah segera dibayarkan perusahaan."

"Karena kalau perusahaan tidak segera beroperasi maka nasib kami semakin sulit dan terkatung- katung," katanya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved