Berita Bekasi

Cegah Melonjaknya Kasus DBD, Plt Wali Kota Bekasi Minta Puskesmas Aktif Kerahkan Lagi Kader Jumantik

Diungkapkan oleh Tri, jika berkaca tahun ini kasus DBD di Kota Bekasi jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Penulis: Joko Supriyanto | Editor: Dedy
Tribunnews.com
Ilustrasi Nyamuk Aedes Aegypti --- Seluruh puskesmas yang ada di Kota Bekasi diminta untuk melakukan langkah-langkah upaya pencegahan peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bekasi dengan memberantas sarang nyamuk. 

TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI SELATAN --- Seluruh puskesmas yang ada di Kota Bekasi diminta untuk melakukan langkah-langkah upaya pencegahan peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bekasi.

Menurut Plt Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, pihak Puskesmas agar lebih responsif dalam hal mengerahkan para kader jumantik di setiap lingkungan warga, serta mensosialisasikan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

"Terkait dengan DBD ya saya minta Puskesmas tetap melakukan langkah persuasif, termasuk para jumantik yang ada kita hidupkan kembali sehingga kita mulai lagi pencegahannya," kata Tri Adhianto, Sabtu (5/8/2022).

Diungkapkan oleh Tri, jika berkaca tahun ini kasus DBD di Kota Bekasi jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Meski begitu, ia tak ingin hal ini terbaikan meski angkanya sendiri tak lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

"Kalau kasusnya tidak lebih tinggi dari tahun kemarin, tapi kita persiapan sediakan payung sebelum hujan karena udah mulai masuk musim pancaroba. Walaupun ini beberapa laporannya banyak tapi kita tetap antisipasi," katanya.

Baca juga: Jumlah Penderita DBD di Kabupaten Bekasi Melonjak, Dinkes Ajak Masyarakat Terapkan Pola Hidup Bersih

Baca juga: Kasus DBD Tertinggi di Kota Bekasi, Dinas Kesehatan Tercatat Ada di Tiga Kecamatan, Dimana Saja?

Jika merujuk data Dinas Kesehatan Kota Bekasi, tercatat memang kasus DBD pada 3 tahun terakhir baik itu 2019, 2020, dan 2021 jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah sementara kasus laporan DBD pada 2022 saat ini.

Jumlah kasus Tahun 2019 sebanyak 2.848 kasus, meninggal 3 jiwa, sedangkan  jumlah kasus tahun 2020 sebanyak 1.646 kasus, meninggal 1 jiwa.

Jumlah kasus tahun 2021 sebanyak 2.004, meninggal 11 jiwa, sedangkan saat ini 2022 sebanyak 1.910 kasus, meninggal 11 jiwa.

BERITA VIDEO : SOSIALISASI DIGITAL MARKETING BAGI IBU-IBU PKK

Sementara itu, sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Tanti Rohilawati,  menyampaikan gerakan PSN sebagai upaya pencegahan kasus DBD sudah mulai dilaksanakan. 

Salah satu gerakannya yaitu satu rumah satu Jumantik.

Bahkan melalui surat edaran Wali Kota Bekasi pun juga setiap minggungnya dilakukan  gerakan aksi gotong royong bersihkan lingkungan warga sekitar.

Gejala DBD yang umum terdiri dari tiga fase. Fase demam meliputi demam tinggi 40 derajat, nyeri seluruh tubuh, sakit kepala, mual muntah.

Fase bahaya (kritis), yakni menurunnya suhu tubuh, muntah, mimisan, nyeri perut.

Sedangkan fase penyembuhan di saat tubuh kembali demam, namun trombosit berangsur normal.

Mengingat resiko penyakit yang cukup berbahaya, Tanti berharap masyarakat melakukan upaya pencegahan di rumah dan lingkungan masing-masing.

"Maka dari itu, saya mengimbau, saya mengajak mari kita menekan angka DBD. Dengan cara yaitu PSN dari masing-masing keluarga atau menjadi Jumantik di masing-masing rumahnya, jadi satu rumah satu Jumantik," ucapnya. 
 
 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved