Berita Nasional

Aktivis Pro-Demokrasi Era 90-an Ini Kritik Seruan Presiden Jokowi Tiga Periode: Tidak Konstitusional

Sekjen SKI Raharja Waluya Jati yang juga Aktivis pro-demokrasi era 90-an kritisi seruan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tiga periode.

Editor: Panji Baskhara
Youtube Sekretariat Presiden
Sekjen SKI Raharja Waluya Jati yang juga Aktivis pro-demokrasi era 90-an kritisi seruan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tiga periode. Foto: Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) 

TRIBUNBEKASI.COM - Musyawarah Rakyat (Musra) mendengungkan usulan soal Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tiga periode.

Seruan Musra Jokowi tiga periode itu digelar oleh 17 kelompok relawan Pro-Jokowi pada 28 Agustus 2022 lalu di Bandung.

Kini, seruan Jokowi tiga periode menjadi sorotan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Sekretariat Kolaborasi Indonesia (SKI) Raharja Waluya Jati.

Aktivis pro-demokrasi era 90-an ini menilai usulan itu jadi antiklimaks pasca semua elemen bersepakat mendukung Presiden Jokowi melanjutkan masa jabatan, hingga tiga periode.

Baca juga: Ramai Wacana Penundaan Pemilu Hingga Presiden Jokowi Tiga Periode, Sekjen PBB: Jangan Membuat Gaduh!

Baca juga: Tolak Usulan Pemilu Ditunda, Komunitas Jokpro 2024 Gaungkan Dukungan Presiden Jokowi Tiga Periode

Baca juga: Jokowi Disebut Bisa Amanahkan Jabatan Presiden Tiga Periode, Feri Amsari: Pak Jokowi Sangat Bersayap

Padahal menurutnya, kegiatan itu merupakan rangkaian acara yang sedianya memiliki agenda utama pejaringan nama calon presiden, untuk diserahkan kepada Presiden Jokowi pada tahun depan.

'Drama' pengusulan agar Jokowi menjabat untuk periode ketiga itu mendapat tanggapan kritis dari Raharja Waluya Jati.

Sekretaris Umum pada organisasi SKI itu pertanyakan komitmen kalangan aktivis politik dan kelompok masyarakat sipil terhadap reformasi tahun 98.

Salah satu tuntutan inti dari gerakan reformasi adalah pembatasan kekuasaan yang berpotensi eksesif, khususnya yang berkaitan dengan masa jabatan presiden.

"Saya ingin bertanya kepada teman-teman yang ada di partai politik, kelompok relawan politik, maupun kelompok masyarakat sipil."

"Apakah kita masih ingin meneruskan cita-cita reformasi, ataukah kita ingin mereformasi reformasi?" ujar Raharja Waluya Jati, Selasa (30/8/2022).

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved