Berita Nasional

Kepala Daerah Diminta Tangani Inflasi, Tito Karnavian Antisipasi Panic Buying: Jadi Isu Prioritas!

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian minta kepala daerah untuk menempatkan penanganan inflasi sebagai agenda prioritas di daerah masing-masing.

Editor: Panji Baskhara
Kompas.com/Kristianto Purnomo
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian minta kepala daerah untuk menempatkan penanganan inflasi sebagai agenda prioritas di daerah masing-masing. Foto: Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian sebelum pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (23/10/2019). Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dan melantik Menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju serta pejabat setingkat menteri. 

TRIBUNBEKASI.COM - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian minta kepala daerah untuk menempatkan penanganan inflasi sebagai agenda prioritas di daerah masing-masing.

Tito Karnavian menegaskan, pengendalian inflasi harus menjadi isu yang dianggap penting selayaknya penanganan pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu.

"Tempatkan isu ini menjadi isu prioritas, dari tadinya mungkin cuek-cuek saja dan autopilot tidak melakukan apa-apa,"

"Bergerak dengan sendirinya mengikuti mekanisme pasar yang ada, sekarang tidak," kata Tito Karnavian di Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Selasa (30/8/2022).

Baca juga: Bambang Soesatyo Soroti Laju Inflasi Indonesia, Ada Ancaman Hiperinflasi 12 Persen: Tak Boleh Lalai!

Baca juga: BI Sebut Komoditas Bahan Bakar Rumah Tangga Jadi Pemicu Utama Inflasi Januari

Baca juga: Inflasi 2021 Tak Sampai 2 Persen Dipengaruhi Belum Kuatnya Permintaan Domestik

Tito mengatakan, tidak hanya kepala daerah, seluruh pemangku kepentingan seperti TNI/Polri, Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik mesti mengidentifikasi masalah inflasi di daerah dan mencari solusinya.

Namun, dalam penanganan inflasi ini, ia mengingatkan agar pemerintah daerah berhati-hati dalam berkomunikasi supaya tidak membuat publik panik.

Ia mengatakan, pemerintah daerah harus membuat masyarakat tetap tenang dan meyakini bahwa situasi tetap terkendali.

"Karena sentimen panik masyarakat itu akan bisa men-trigger yang kontraproduktif, misalnya terjadinya panic buying, ramai-ramai membeli kemudian menyetok barang karena takut kenaikan harga dan lain-lain," ujar Tito.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi Indonesia semakin tinggi pada Juli 2022, baik secara bulanan (month to month/mtm) maupun secara tahunan (year on year/yoy).

Inflasi Juli 2022 tercatat sebesar 0,64 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan periode Juni 2022 yang sebesar 0,61 persen.

Sedangkan secara tahunan sebesar 4,94 persen, lebih tinggi dari Juli 2021 yang sebesar 4,35 persen.

Adapun dengan angka inflasi Juli itu, maka tingkat inflasi tahun kalender dari Januari ke Juli 2022 tercatat sebesar 3,85 persen.

(Kompas.com)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved