Berita daerah

Begini lho Cara Rehabilitasi Lumba-lumba serta Biayanya

Merehabilitasi lumba-lumba membutuhkan waktu panjang dan biaya besar, karena banyak hal yang harus dilakukan.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Istimewa/ppid.menlhk.go.id
Johny, Rambo, dan Rocky, tiga lumba-lumba jenis Hidung Botol (Delphinus truncatus), yang dikembalikan ke alam bebas pada Sabtu (3/9/2022), di perairan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Gilimanuk, Bali. 

TRIBUNBEKASI.COM, BALI -- Kata rehabilitasi sudah akrab di telinga masyarakat, dan biasanya terkait dengan penanganan bagi pencandu narkoba.

Ternyata bukan hanya pencandu narkoba yang membutuhkan rehabilitasi, sebab lumba-lumba juga membutuhkan rehabilitasi.

Ini bukan berarti lumba-lumbanya mencandu narkoba, melainkan sebagai persiapannya sebelum dilepaskan kembali ke habitatnya, atau alam bebas.

Kegiatan rehabilitasi hewan ini bukan hanya terbatas untuk lumba-lumba, tapi untuk semua jenis hewan liar yang pernah menjadi peliharaan manusia sehingga hidupnya menjadi tergantung kepada manusia.

Dalam arti ia sudah tak tahu cara menari makan sendiri tanpa bantuan manusia.

Karena itu Indonesia juga melakukan rehabilitasi bagi orangutan.

Melepas 3 lumba-lumba

Pada akhir pekan lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melepasliarkan 3 ekor lumba-lumba hidung botol (Delphinus truncatus) di perairan Gilimanuk, Bali.

Sebagaimana dilansir laman Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehuatanan, ketiga Lumba-lumba hidung Botol ini telah melalui proses rehabilitasi selama 3 tahun.

Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar, karena banyak hal yang harus dilakukan untuk membuat ketiga lumba-lumba itu liar kembali.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved