Berita Bekasi

Harga Tahu Masih Stabil Meski Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu di Cikarang 'Menjerit'

Dede mengaku telah mengalami banyak kerugian lantaran omzet penjualan menurun hingga 40 persen dari kondisi sebelumnya.

Penulis: Rangga Baskoro | Editor: Ichwan Chasani
TribunBekasi.com/Rangga Baskoro
Dede, perajin tahu di Cikarang Barat. 

TRIBUNBEKASI.COM — Para perajin tahu di wilayah Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, mengeluhkan kenaikan harga kedelai impor yang didatangkan dari negara Amerika Serikat.

Meski kenaikan harga kedelai impor telah terjadi sejak Juni 2022 lalu, hingga kini perajin belum juga menaikkan harga tahu di pasaran.

Kehidupan ekonomi para perajin tahu tersebut juga kian terjepit dengan adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang mempengaruhi biaya transportasi.

"Untuk sekarang kami tahan dulu harganya, tapi belum diputuskan karena masih nunggu apakah beberapa hari ke depan harga bisa stabil atau enggak," tutur Dede, salah satu perajin tahu, saat ditemui di lokasi pembuatan tahu miliknya, Rabu (28/9/2022).

Sebab, para perajin tahu hingga kini juga masih mendiskusikan dan belum mengambil langkah untuk merespons kenaikan harga kedelai dari yang awalnya Rp8.000 menjadi Rp13.000 per kilogram.

Baca juga: SIM Keliling Kota Bekasi Kamis 29 September 2022 di Bekasi Cyber Park (BCP), Cek Persyaratannya

Baca juga: SIM Keliling Karawang Kamis 29 September 2022 di Depan Polsek Telagasari Hingga Pukul 15.00 WIB

Baca juga: SIM Keliling Kabupaten Bekasi Kamis 29 September 2022 di MPP Lotte Mart Cikarang, Cermati Syaratnya

Dirinya pun tak bisa serta-merta menaikkan harga maupun mengecilkan ukuran tahu dikarenakan keputusan tersebut, harus dilakukan serentak oleh seluruh perajin.

"Karena kalau ukuran tahu dikecilin, konsumen protes. Kalau harga dinaikin, enggak ada yang beli, soalnya naik harga tahu harus bareng-bareng sama produsen lain. Harus kompak semuanya. Kalau enggak ya pelanggan lari ke penjual yang lebih murah," katanya.

Dede mengaku telah mengalami banyak kerugian lantaran omzet penjualan menurun hingga 40 persen dari kondisi sebelumnya.

Alhasil, ia terpaksa mengurangi volume produksi hingga mengurangi jumlah pekerja dari biasanya.

Dia berharap pemerintah lebih peka terhadap kondisi perekonomian rakyat kecil dan mengulurkan bantuan yang dibutuhkan.

"Pemasukan turun sampai 40 persen. Tolong pemerintah, bantu kami perajin tahu biar ada solusi, karena sudah berbulan-bulan seperti ini," ungkap Dede.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved