Tragedi Kanjuruhan

Tuntut Keadilan, Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Datangi Bareskrim Polri Sembari Bawa Bukti

Meski sudah diselidiki dan ditetapkan tersangka, keluarga korban menilai bahwa laporan di Polda Jawa Timur tidak banyak mengakomodir perspektif korban

Penulis: Ramadhan L Q | Editor: Ichwan Chasani
Warta Kota/Ramadhan LQ
Pendamping Hukum Tim Gabungan Aremania (TGA), Anjar Nawan Yusky di Bareskrim Polri, Jumat (18/11/2022).  

TRIBUNBEKASI.COM —  Tragedi Kanjuruhan hingga kini masih menyisakan permasalahan hukum yang belum sepenuhnya tuntas.

Demi menuntaskan persoalan hukum dalam Tragedi Kanjuruhan itu, rombongan penyintas dan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan mendatangi Bareskrim Polri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (18/11/2022).

Pendamping Hukum Tim Gabungan Aremania (TGA), Anjar Nawan Yusky mengatakan, kedatangan ke Bareskrim untuk membuat laporan polisi atas tragedi yang terjadi pada 1 Oktober 2022 lalu.

Dalam tragedi itu, ratusan nyawa melayang di stadion yang berkapasitas 38.000 tersebut usai pertandingan derbi Jawa Timur mempertemukan Arema FC versus Persebaya Surabaya.

Meski sudah diselidiki dan ditetapkan tersangka, Anjar Nawan Yusky mengatakan bahwa laporan yang ada di Polda Jawa Timur merupakan laporan model A.

BERITA VIDEO: SUSUNAN ANGGOTA TGIPF TRAGEDI KANJURUHAN, MANTAN WAKIL KETUA KPK HINGGA ATLET

Namun, perkara yang tengah berjalan tersebut tidak banyak mengakomodir perspektif korban.

"Sehingga dengan demikian masyarakat Malang, khususnya korban Aremania merasa tidak ada keadilan di sana. Karena tidak sesuai fakta yang sebenarnya," ujar Anjar Nawan Yusky, kepada wartawan, Jumat.

"Untuk itulah kami hadir di sini buat laporan. Korban sendiri yang buat laporan, dengan harapan nanti akan lebih membuka perspektif korban. Apa yang terjadi di tribun itu, yang bisa lihat korban. Karena korban ada di tribun, sementara pihak kepolisian berada di tengah lapangan stadion," sambungnya.

Baca juga: Piala Dunia 2022: Nabila Putri Jagokan Jerman, Negeri asal Suaminya, Performa Tim Lebih Baik

Baca juga: Turun Rp 1.000 Per Gram, Harga Emas Batangan Antam di Bekasi, Jumat Ini Jadi Segini, Ini Rinciannya

Dalam laporan ke Bareskrim Polri pada hari Jumat (18/11/2022) ini, Anjar Nawan Yusky menuturkan pihaknya membawa bukti berupa resume medis.

"Bukti yang pasti adalah resume medis. Jadi di laporan model a, atau laporan yang berjalan di Polda Jawa Timur kami duga di sana tidak menjelaskan secara gamblang seperti apa akibat luka ini. Tidak hanya patah tulang ya, karena patah tulang seperti yang ada di perkara berjalan di Polda Jatim itu seolah-olah nanti korban-korban ini terinjak-injak. Padahal banyak," kata dia.

"Ada korban mata merah, ada korban sesak nafas itu kami bawa semua sekarang buktinya. Kalau ditanya apa perbedaanya yang paling dasar misalnya laporan tentang kekerasan terhadap anak bagaimana diatur dalam UU Perlindungan Anak," sambungnya.

Sementara itu, Andy Irfan selaku Sekretaris Jenderal Kontras yang juga mendampingi rombongan penyintas dan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan mengatakan laporan ini guna menyampaikan fakta yang selama ini belum dilihat secara utuh oleh penyidik di Polda Jawa Timur.

"Intinya kami membuat laporan karena skema pemidanaan yang dibuat oleh Polda Jawa Timur tidak menyentuh seluruh peristiwa pidana 359 dan 360 itu tidak akan mampu membuktikan seluruh tindak kejahatan di malam hari itu. Diantaranya adalah dugaan pembunuhan, pembunuhan berencana, penyiksaan hingga meninggal dunia, kekerasan kepada anak, kekerasan kepada perempuan dan banyak hal lain," ujar Andy Irfan.

Baca juga: Cabor Sepatu Roda dan Skateboard Kabupaten Bekasi Sumbang Tiga Medali Emas Porprov XIV Jabar 2022

Baca juga: Perpanjangan SIM Kabupaten Bekasi Jumat, 18 November 2022, di Dua Lokasi Satpas, Cek Syaratnya

Halaman
1234
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved