Berita Karawang

Mencegah Salah Diagnosis, Nakes RSUD Karawang Diwajibkan Kuasai Bahasa Isyarat Tunarungu

RSUD Karawang akan memberi pelatihan bahasa isyarat tunarungu kepada para tenaga kesehatan, agar bisa melayani pasien tunarungu dengan lebih baik.

Penulis: Muhammad Azzam | Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Muh Azzam
RSUD Karawang akan memberi pelatihan bahasa isyarat tunarungu kepada para tenaga kesehatan, agar bisa melayani pasien tunarungu dengan lebih baik. 

TRIBUNBEKASI.COM, KARAWANG -- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang ingin meningkatkan mutu pelayanan, terutama kepada pasien berkebutuhan khusus.

Karena itu, kini tenaga Kesehatan (Nakes) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang diwajibkan menguasi bahasa isyarat tunarungu.

Hal itu disampaikan Plt Direktur RSUD Karawang, dr Fitra Hergyana, pada Minggu (8/1/2023).

Fitra menjelaskan bahwa langkah itu dilakukan agar mencipatakan rumah sakit ramah disabilitas.

Pihaknya juga menjalin kerja sama dengan komunitas tunarungu, untuk memberikan pelajaran bahasa isyarat bagi para nakes.

"Kami menginginkan agar seluruh staff, dokter, atau seluruh nakes dapat mulai mempelajari serta mengerti bahasa isyarat," kata dr Fitra.

Mencegah salah diagnosa

Dengan mengerti bahasa isyarat, kata Fitra, akan mempermudah para nakes dalam melayani dan bertujuan agar tidak terjadi kesalahan diagnosa.

“Sesuatu yang baru dan membawa kemudahan untuk mereka berobat. Tadi juga lihat dokter kalau komunikasinya tidak nyambung kesulitan mencari diagnosanya,” ungkap dr Fitra.

Pasien tidak paham

Inten Yulia, dari perwakilan komunitas teman tuli (tunarungu), menyambut positif kerja sama antara RSUD Karawang dengan komunitas tunarungu.

Pihaknya berharap kualitas pelayanan di RSUD Karawang meningkat.

“Suka ada keluhan dari penyandang tuli, katanya dokter bicara terus tapi enggak bisa dipahami oleh mereka,” kata Yulia.

Lebih lanjut, Yulia berharap RSUD Karawang bisa menjadi contoh bagi RS lainnya untuk meningkatkan akses bagi para penyandang disabilitas, khususnya tunarungu.

Dia menyarankan pengelola RS juga menyediakan fasilitas yang menunjang kebutuhan mereka.

“Sebetulnya enggak cukup hanya juru bahasa, ruangan harusnya ada akses visual, biar tanpa ada yang mengarahkan pun mereka bisa membaca. Minimal kami ingin dokter-dokter bisa berkomunikasi dengan penyandang disabilitas,” kata Yulia.

Sumber: Tribun bekasi
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved