Berita Karawang

Selama Tahun 2022, Ditotal Ada 3.289 Janda Baru di Kabupaten Karawang

Hakim dan Humas Pengadilan Agama Karawang Kelas 1 A, Asep Syuyuti mencatat angka perceraian di Karawang meningkat sejak tahun 2019.

Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Panji Baskhara
shutterstock via Kompas.com
Hakim dan Humas Pengadilan Agama Karawang Kelas 1 A, Asep Syuyuti mencatat angka perceraian di Karawang meningkat sejak tahun 2019. Ilustrasi: Single/Jomblo/Janda 

TRIBUNBEKASI.COM - Pengadilan Agama Karawang mencatat angka perceraian alami peningkatan pada tahun 2022 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Hakim dan Humas Pengadilan Agama Karawang Kelas 1 A, Asep Syuyuti, pihaknya mencatat angka perceraian di Karawang terus mengalami peningkatan sejak tahun 2019.

Di tahun 2019, cerai talak atau suami yang mengajukan gugatan perceraian sebanyak 1.400 dan cerai gugat atau istri yang menggugat cerai sebanyak 2.898.

Selanjutnya, tahun 2020 cerai talak sebanyak 1.029 kasus, cerai gugat 2.844 kasus, tahun 2021 cerai talak 1.057 kasus, cerai gugat 2.984 kasus dan tahun 2022 cerai talak sebanyak 1.053 kasus dan cerai gugat 3.289 kasus.

Baca juga: Mpok Alpa Kena Tipu Rp1,3 M oleh Sahabatnya, Hampir Cerai dari Suami karena Lebih Percaya ke Sahabat

Baca juga: Alasan Ratu Rizky Nabila Minta Ditalak Cerai ke Ibrahim Alhami Setelah Dua Hari Resmi Menikah Siri

Baca juga: Wow, Pernikahan Ratu Rizky Nabila Hanya Bertahan 4 Hari, Sabtu Menikah Rabu Cerai

"Artinya jika dilihat data terjadi kenaikan angka perceraian di Karawang, dan yang paling banyak mengajukan gugatan cerai itu istri kepada suami," kata Syuyuti, pada Rabu (18/1/2023).

Terkait penyebab perceraian, kata Syuyuti, paling banyak itu karena perselisihan dan pertengkaran terus menerus.

Kemudian, karena ekonomi, meninggal, judi dan mabuk dan poligami liar.

"Tahun 2022 ini 47,54 persen penyebab perceraian karena pertengkaran dan perselisihan terus menerus, kedua ekonomi 45,45 persen, meninggal 4,21 persen, judi 0,4 persen dan sisanya itu lainnya," beber dia.

Dia menambahkan, penyebab lainnya itu yakni mabuk, madat, judi, poligami liar, cacat badan, dan kawin paksa.

Dikatakannya, dalam proses persidangan pihak pengadilan agama berupaya agar selalu terjadi perdamaian.

"Maka setiap kali persidangan selalu dilakukan mediasi, dilakukan upaya perdamaian. Karena perceraian memang tidak dilarang dalam agama Islam, namun Allah membenci sebuah perceraian," paparnya.

Kehilangan Pasangan Tingkatkan Risiko Kematian

Mengutip artikel Kompas.com, kematian menjadi peristiwa memilukan yang begitu membekas bagi jiwa kita.

Apalagi bila yang pergi meninggalkan kita adalah pasangan hidup.

Halaman
123

Ikuti kami di

AA
KOMENTAR
© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved