Lifestyle
Ternyata ada Hubungan Perubahan Iklim Ekstrem dengan Ruam Popok, Begini kata Ahlinya
Dibandingkan dengan kulit dewasa, kulit bayi lebih tipis, kurang berbulu dan memiliki lebih sedikit keringat dan sekresi kelenjar sebaceous.
TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA ---– Belum lama ini wilayah Asia Tenggara dilanda suhu yang sangat panas.
Suhu mencapai lebih dari 30 derajat celcius bahkan mendekati 50 derajat.
Hal itu merupakan tanda munculnya cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.
Fenomena cuaca ekstrem di Indonesia cenderung meningkat disebabkan oleh dampak perubahan iklim yang saat ini sudah mulai dirasakan oleh masyarakat.
Kondisi yang dirasakan seperti meningkatnya frekuensi bencana banjir, meningkatnya bencana kekeringan, dan mundurnya masa musim hujan.
Negara yang berada di daerah tropis dan subtropis, selain mengalami peningkatan temperatur juga akan mengalami peningkatan curah hujan.
Suhu rata-rata yang lebih hangat dan pola badai angin akan lebih mudah memicu penyakit kulit.
Baca juga: Tak Ingin Bayi Rewel Selama Mudik, Jangan Abai Ganti Popok Sekali Pakai tiap 2-3 Jam Sekali
dr. Fellycia Trie W., Sp. A, dokter spesialis anak di RS Cinta Kasih Jakarta mengatakan, bukan hanya pada orang dewasa, masalah kulit justru lebih rentan terjadi pada bayi.
Seperti yang kita ketahui, kulit bayi masih akan terus berkembang.
Dibandingkan dengan kulit dewasa, kulit bayi lebih tipis, kurang berbulu dan memiliki lebih sedikit keringat dan sekresi kelenjar sebaceous.
Sehingga, kulit bayi lebih mudah terkena trauma mekanis, bakteri dan cuaca serta perubahan panas.
Salah satu masalah kulit yang sering dialami oleh Si Kecil adalah ruam popok.
Ruam popok umumnya disebabkan oleh Irritant Contact Diaper Dermatitis, yaitu dari urin dan feses yang terperangkap di dalam popok.
Selain itu, dapat disebabkan oleh infeksi jamur, impetigo atau dermatitis alergi (disebabkan oleh sabun, deterjen atau popok itu sendiri).
“Jika kulit sensitif bayi terkontaminasi terlalu lama dengan cairan dalam popok, maka akan meningkatkan pH kulit lokal, terutama pada area popok Si Kecil," kata dr. Fellycia Trie W., Sp. A dalam siaran pers, Jumat (2/6/2023).
Oleh sebab itu, Ibu harus senantiasa menjaga kebersihan kulitnya dan berupaya mengganti popok secara berkala, menjaga area popok supaya tetap kering serta memilih popok dengan fitur indicator urin untuk mempermudah Ibu saat perlu mengganti popok.
Baca juga: 3 Cegah Ruam Popok Bayi, Salah Satunya Rutin Ganti Tiap 3-4 Jam Sekali
Selain itu, penting menggunakan popok daya serap tinggi untuk mengurangi risiko ruam popok.
Jason Lee, Brand Director Makuku Indonesia mengatakan, karena kondisi iklim tidak dapat dihindari, maka yang dibutuhkan oleh Ibu saat ini adalah solusi untuk menekan risiko ruam popok pada Si Kecil.
Kemampuan penyerap SAP Core Technology pada Makuku Sap diciptakan dengan inovasi teknologi tinggi sehingga penyerapannya lebih cepat dan lebih merata. K
ketiga beraktivitaspun, popok yang terguncang tidak akan menggumpal atau menggembung di satu titik dan akan mengunci cairan.
Selain itu, juga dilengkapi dengan fitur indikator urin pada yang berwarna kuning dan akan berubah warna menjadi biru ketika popok sudah penuh.
Tujuannya supaya Ibu lebih mudah untuk mengetahui waktu ganti popok Si Kecil sehingga kulitnya tidak terkontaminasi terlalu lama dengan urin.
Baca juga: Bau Limbah Popok Bayi di Karawang Bikin Resah, Ketua RT Desa Mekarjaya: Sudah Ada Sejak 1 Bulan Lalu
Chelsea Olivia, public figure dan ibu 2 anak, berbagi pengalamannya, bahwa iklim yang tidak menentu bukan hanya memicu batuk pilek pada bayi.
Si Kecil terlahir dengan kondisi kulit yang sensitif karena kulitnya masih terus berkembang.
Karena itu, masalah kulit seperti ruam popok juga bisa terjadi.
"Sebagai seeorang Ibu, sudah seharusnya mengupayakan solusi untuk menekan risiko ruam popok pada Si Kecil. Ibu perlu memperhatikan kelembapan ruangan Si Kecil dan mengganti popok secara teratur," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/chelsea-olivia-dan-glenn-alinskie-us.jpg)