Berita Karawang
Selain ISPA, Warga Telukjambe Karawang Diserang Penyakit Heat Exhaustion Imbas Cuaca Panas
sepanjang musim kemarau atau cuaca panas ini data penyakit yang paling mendominasi adalah ISPA.
Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Dedy
TRIBUNBEKASI.COM, KARAWANG --- Puskesmas Wanakerta Telukjambe Barat Kabupaten Karawang, Jawa Barat mencatat banyak warga terkena heat exhaustion atau kelelahan yang muncul setelah tubuh terkena suhu tinggi, imbas cuaca panas.
Kepala Puskesmas Wanakerta, Veronica Maulana menyebutkan, sepanjang musim kemarau atau cuaca panas ini data penyakit yang paling mendominasi adalah ISPA.
Namun, ia berturut-turut menemukan orang yang awalnya bukan pasien mendadak masuk UGD Puskesmas Wanakerta imbas cuaca panas.
"Ternyata penyebabnya adalah kondisi heat exhaustion yang diakibatkan oleh cuaca panas," kata Veronica pada Kamis (12/10/2023).
BERITA VIDEO : SUHU TERPANAS DI INDONESIA CAPAI 37,8 DERAJAT
Kata Veronica, rekam riwayat penyakit paling banyak itu ISPA, dalam satu bulan mencapai 283 pasien.
Akan tetapi, hasil pemeriksaan dokter puskesmas saat bekerja menemukan kondisi bernama heat exhaustion.
Pasien heat exhaustion ini sudah ditemukan tiga kali berturut-turut di Puskesmas Wanakerta. Ia turut merasa khawatir, sebab kondisi heat exhaustion biasanya tidak terlapor.
Baca juga: Tiga Jenis Barang Ini Wajib Ada di Tas Wanita saat Cuaca Panas, Apa Saja? Ini Penjelasan dr Claudia
"Itu adalah kondisi mungkin karena saking panasnya suhu. Kondisinya justru yang jadi pasien UGD kita adalah orang-orang yang nunggu di luar," lanjutnya.
Dia menjelaskan, heat exhaustion tidak bisa dianggap sepele, karena penyakit ini memiliki step lanjutan yaitu heat stroke hingga dehidrasi.
"Kemungkinan masyarakat yang mengalami juga tidak menyadari kalau itu adalah heat exhaustion. Jadi kondisi-kondisi seperti ini tidak terlaporkan," jelas Veronica.
VIDEO LIVE FACEBOOK TRIBUNBEKASI.COM : TIPS ALA DR CLAUDIA MENJAGA KULIT DARI TERIK PANAS MATAHARI
Berhubung musim kemarau belum berakhir atau cuaca panas, Veronica menyarankan kepada masyarakat Karawang untuk memperbanyak minum air putih.
Lalu menggunakan pelindung seperti payung atau topi untuk menghindari sinar matahari langsung dan menyiram tubuh ketika terkena kondisi heat exhaustion.
"Jangan anggap sepele, kalau merasa sudah tidak bisa diatasi sendiri datanglah ke puskesmas," pungkasnya.
Tips menjaga kulit di tengah terik panas matahari
Cuaca panas terik matahari sangat dirasakan belakangan ini di Indonesia, termasuk di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Kondisi ini tentu sangat berdampak pada kulit bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan.
dr Claudia, Dokter Skincare Profesional Mutiara Aesthetic Clinic Distrik 1 Meikarta, Cikarang, Kabupaten Bekasi memberikan tiga tips dalam menjaga kulit dari paparan sinar terik matahari.
"Jadi gini memang akhir-akhir ini kita rasakan sangat menyengat sekali ya, untuk cahaya matahari sinar mataharinya. Otomatis itu akan berpengaruh terhadap kesehatan kulit kita," kata dr Claudia kepada TribunBekasi.com
Untuk menjaga itu dan merawatnya ada beberapa tips yang bisa dilakukan.
Lanjut, dr Claudi menerangkan, pertama harus pakai sunscreen dan diajurkan SPF 30 atau sampai 50.
Kemudian juga cara pemakaiannya harus diulang atau tak hanya sekali.
"Misal aktivitas di outdoor lama itu harus diulang, per 3-4 jam harus pakai lagi, di re-appy. Pagi kita pakai sampai siang atau 12 harus diulang lagi, karen dia keefektifannya akan menurun," beber dia.
Kata dr Claudia, apabila aktivitas di luar ruangan yang cukup lama. Sangat dianjurkan selain memakai sunscreen, juga pakai pelindung tambahan seperti topi dan payung.
Selain itu juga, usai aktivitas diluar terkena panas jangan langsung mencuci muka saat masuk ke ruangan.
Tunggu sampai minimal 10 menit atau kulit menyusaikan suhu ruangan.
"Biasanya habis kena panas diluar, masuk ke ruangan tergoda cuci muka tuh. Ada baiknya tunggu dulu minimal 10 menit lah, sampai suhu kulit kita sama ruangan baru cucu muka, karena kalau engga belang wajahnya dari panas kaget ketemu yang dingin," imbuhnya.
dr Claudia menambahkan, bagi mereka yang tengah melakukan perawatan dermapen dan healing tidak dianjurkan terkena matahari.
Walaupun menggunakan sunscreen, karena khawatir justru proses perawatannya gagal dan justru kulit akan menjadi hitam.
"Karena seperti kita tau healing itu kan ekploisasi jadi dia mengelupas, dermapen itu pakai jarum ada sedikit luka-luka kecil, itu sangat beresiko sekali jika terkena matahari," imbuhnya.
Ada jaraknya saat pakai perawatan yaitu masa down time atau masa jelek-jeleknya itu aman sampai hari ketiga hingga ketujuh.
"Sangat disarankan tidak boleh, kalau mendesak ya pakai sunscreen juga pelindung lainnya seperti masker, topi, dan payung," katanya. (maz)
Baca berita TribunBekasi.com lainnya di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bekasi/foto/bank/originals/ilustrasi-cerah.jpg)