Senin, 11 Mei 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

Gempa Bogor Disertai Suara Gemuruh, Ini Penjelasan Ilmiahnya

BMKG menilai suara gemuruh dan dentuman yang muncul saat terjadi gempa Bogor termasuk hal yang wajar.

Tayang:
Penulis: | Editor: Ign Prayoga
TribunnewsBogor.com/Muamarrudin Irfani
DAMPAK GEMPA BOGOR - Kerusakan rumah warga Kampung Pabuaran, Kelurahan Cilendek Timur, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor akibat gempa bumi, Jumat (11/4/2025). (Muamarrudin Irfani) 

TRIBUNBEKASI.COM, BOGOR -- Gempa berkekuatan magnitudo 4,1 mengguncang wilayah Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (10/4/2025) pukul 22.16. WIB.

Gempa menjelang tengah malam ini disertai suara gemuruh dan dentuman hingga warga bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengungkapkan, gempa Bogor terjadi akibat adanya sesar yang aktif. "Diduga kuat pembangkitnya adalah Sesar Citarik Sinistral Strike-Slip," ujar Daryono dalam rilis resminya, Jumat (11/4/2025).

Lantas, apa penyebab gempa Bogor disertai suara gemuruh dan dentuman?

Daryono menjelaskan, suara gemuruh dan dentuman yang muncul saat terjadi gempa Bogor termasuk hal yang wajar. "Suara tersebut muncul karena getaran frekuensi tinggi (terjadi) dekat permukaan (Bumi)," katanya.

Data BMKG menunjukkan, episenter gempa Bogor terletak pada koordinat 6,62 LS-106,80 BT, lebih tepatnya 2 km di darat bagian tenggara Kota Bogor dengan kedalaman hanya 5 km.

Episenter merupakan titik di permukaan Bumi yang berada tepat di atas hiposenter atau pusat gempa bumi. Guncangan gempa terasa paling kuat di episenter.

Daryono menambahkan, suara gemuruh dan dentuman gempa Bogor menjadi bukti guncangannya berlangsung pada kedalaman hiposenter sangat dangkal dari permukaan Bumi.

Meski dangkal, gempa Bogor dapat dirasakan dengan intensitas cukup besar, yaitu III MMI di Kota dan Kabupaten Bogor, serta Depok.

Menurutnya, semua gempa bumi sangat dangkal disertai dengan suara ledakan, dentuman, dan gemuruh.

BMKG juga mencatat setidaknya ada empat kali gempa susulan usai terjadi gempa utama hingga Jumat (11/4/2025) pagi.

Selain itu, Daryono mengungkapkan sederet fakta terkait gempa Bogor pada 10 April 2025 malam.

1. Jenis gempa

Menurut Daryono, gempa Bogor merupakan jenis gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) akibat aktivitas sesar aktif. Shallow crustal earthquake adalah jenis gempa yang terjadi sangat dekat permukaan Bumi sehingga getaran yang dirasakan sangat kuat.

Bukti gempa Bogor termasuk gempa tektonik, tampak pada bentuk gelombang gempa hasil catatan sensor seismik DBJI (Darmaga) dan CBJI (Citeko) dengan karakteristik gelombang S (shear) yang kuat dengan komponen frekuensi tinggi.

"Geseran kuat merupakan karakteristik gempa tektonik yang terjadi ketika patahan pecah dan melepaskan energi," kata Daryono.

2. Sesar penyebab gempa

Daryono melanjutkan, hasil analisis mekanisme sumber gempa oleh BMKG menunjukkan gempa Bogor memiliki mekanisme geser (strike-slip). "Episenter gempa Bogor terletak pada jalur Sesar Citarik yang memiliki mekanisme geser mengiri," katanya.

Hasil analisis mekanisme sumber gempa oleh BMKG menuturkan, gempa Bogor terjadi akibat Sesar Citarik aktif bergerak dengan mekanisme geser mengiri (sinistral strike-slip).

3. Dampak gempa

Gempa Bogor dirasakan di wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Depok dengan Skala Intensitas III-IV MMI. Bencana ini menimbulkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan rumah warga di Kota Bogor.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengungkap, tidak ada korban jiwa akibat gempa Bogor. Namun, guncangan gempa selama 2-3 detik membuat masyarakat berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

"Sebanyak 14 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan ringan akibat gempa berkekuatan M 4.1 yang mengguncang tersebut," imbuh Aam dalam rilis resminya, Jumat.

Hingga kini, BPBD Bogor masih bersiaga melakukan pemantauan serta penanganan dampak gempa. Meski demikian, kondisi warga kondusif dan sudah kembali ke rumah.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved