Jumat, 24 April 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

Berita Bekasi

Bupati Bekasi Minta Perpisahan dan Kelulusan Pelajar Digelar di Sekolah Saja

Jika perpisahan sekolah harus dilaksanakan, kata Ade, jangan sampai ada membebani orangtua yang kurang mampu.

Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Dedy
TribunBekasi.com/Rendy Rutama Putra
PERPISAHAN DI SEKOLAH ---- Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunangmeminta perpisahan dan kelulusan siswa dilaksanakan di sekolah saja. 

TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI --- Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang meminta perpisahan dan kelulusan siswa dilaksanakan di sekolah saja.

Ade Kuswara meminta Dinas Pendidikan melakukan pengawasan terhadap sekolah agar tidak membebani para wali murid terkait kegiatan perpisahan dan kelulusan siswa.

"Kalau ini membebani orang tua, ini yang tidak kita kehendaki sebagai pemerintah. Jadi (perpisahan dan kelulusan siswa) cukup di sekolah saja, kita salam-salaman dan ucapan perpisahan," kata Ade Kuswara usai melantik 156 Pejabat Fungsional Guru dan Pengawas Sekolah di lingkungan di Aula KH Noer Alie, Kompleks Pemkab Cikarang Pusat, pada Senin, (2/6/2025).

Jika perpisahan sekolah harus dilaksanakan, kata Ade, jangan sampai ada membebani orangtua yang kurang mampu.

Baca juga: Kabupaten Bekasi Punya Banyak Tempat Bersejarah, Disbudpora: Bisa untuk Acara Perpisahan Sekolah

Harus ada musyawarah dengan orangtua murid, dan jika semua tidak keberatan, diwajibkan pelaksanaannya tidak jauh atau masih wilayah Jawa Barat.

"Bahwa misalkan ada perpisahan di Kabupaten Bekasi, perpisahannya di Bandung dan itu kita juga ukur juga. Kenapa di Bandung, kan masih Jawa Barat, Jadi aliran-aliran anggaran masih di situ," imbuhnya.

Meski demikian, kata Ade, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sudah menegaskan jangan ada perpisahan atau kelulusan yang
membebankan orangtua yang kurang mampu.

"Intinya sekiranya jangan sampai cukup di sekolahan saja. Kita selamatan, kita saling dan ucapkan-ucapkan perpisahan," katanya.

Dedi Mulyadi: jangan sok kaya!

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terlibat perdebatan dengan  Aura Cinta, siswi SMA asal Kabupaten Bekasi, Jabar.

Aura Cinta merupakan siswi yang mengkritik penggusuran pemukiman warga di bantaran sungai yang dicanangkan kebijakan Gubernur Jabar.

Aura Cinta juga menolak larangan perpisahan kelas 12 SMA yang juga dicetuskan Gubernur Dedi Mulyadi.

Perdebatan itu terjadi dalam sebuah pertemuan yang videonya diunggah pada akun YouTube resmi Dedi Mulyadi pada 26 April 2025.

Dalam pertemuan itu, Aura hadir bersama ibunya dan sejumlah warga. Mereka merupakan korban penggusuran rumah di bantaran Sungai Bekasi.

Dalam dialog itu, Aura mempersoalkan kebijakan pelarangan acara perpisahan sekolah yang diterapkan oleh pemerintah daerah.

Menurut dia, acara perpisahan adalah momen yang akan dikenang para siswa kelas 12. 

Namun hal ini dibantah Dedi Mulyadi. "Kalau tanpa perpisahan, emang kehilangan kenangan? Kenangan bukan pada saat perpisahan, tapi kenangan indah itu saat proses belajar selama tiga tahun," ujar Dedi. 

"Enggak juga sih, Pak. saya ngerasa udah lulus. Kalau gak ada perpisahan, kita tuh gak bisa ngumpul bareng atau ngerasain interaktif sama teman gitu," ujar Aura.

Aura menilai, wisuda atau acara perpisahan tetap penting sebagai bentuk kenangan bersama teman-teman, meski dengan biaya yang minimal.

Namun Dedi menegaskan, kebijakan melarang perpisahan dan study tour diberlakukan untuk meringankan beban orangtua siswa.

Dedi menyatakan, wisuda seharusnya hanya dilakukan di tingkat perguruan tinggi, bukan di TK, SMP, atau SMA.

Gubernur Jabar kemudian menyinggung kondisi Aura. "Rumahnya di bantaran kali, tapi sekolah mau gaya-gayaan ada wisuda. Rumah aja nggak punya," kata Dedi.

Dalam perdebatan tersebut, Aura menyampaikan bahwa perpisahan di sekolahnya, SMAN 1 Cikarang Utama, hanya dikenakan biaya sekitar Rp 1 juta.

Ibunya pun mengaku setuju membayar demi membangun mental anak, meski Dedi menilai hal tersebut membebani keluarga yang secara ekonomi belum mapan. 

Dedi mengingatkan, fokus utama seharusnya adalah menghemat pengeluaran untuk masa depan, bukan untuk keperluan seremonial.

Ia juga menyoroti bahwa warga yang tinggal di bantaran sungai seharusnya lebih mengutamakan kebutuhan dasar seperti tempat tinggal daripada biaya perpisahan sekolah. "Kalau demi anak, jangan tinggal di bantaran sungai," kata Dedi.

Namun, Aura tetap ngotot bahwa perpisahan harus dilakukan.

Dia juga menjelaskan aksinya mengkritik penggusuran rumah yang dicanangkan Dedi Mulyadi. Aura menyampaikan kritik itu dalam bentuk video yang diunggah di TikTok hingga jadi viral.

"Saya di video Tiktok itu kan captionnya bukan untuk meminta kerohiman atau apa pun, saya cuma minta keadilan," ujar Aura.

"Waktu digusur itu gak ada musyawarah, cuma ada Satpol PP datang," ujar Aura menjelaskan terkait rumahnya yang dirobohkan.

Dedi kemudian bertanya bagaimana jika negara meminta agar Aura dan keluarganya membayar sewa atas tanah yang telah mereka tempati selama bertahun-tahun.  

"Bapak kan bisa lihat dulu latar belakang saya, saya miskin atau gak, mampu bayar atau enggak," ujar Aura membela diri.

"Kamu miskin gak?" tanya Dedi.

"Iya, saya mengakui," ujar Aura.

"Kenapa miskin pengen hidup bergaya, sekolah harus ada perpisahan? Kan kamu merasa miskin. Kenapa orang miskin gak merasa prihatin?" ujar Dedi.

BERITA VIDEO : TERKUAK PROFESI AURA CINTA, REMAJA YANG BERANI KRITIK DEDI MULYADI

Aura kembali menegaskan bahwa dia tidak menolak kebijakan melarang perpisahan, tapi dia ingin perpisahan tetap diperbolehkan asal dengan biaya yang kecil.

"Apa pun itu saya mendukung, cuma jangan dihapus, Pak, gak semuanya bisa terima. Kalau wisuda dihapus, dan bapak juga minta pajak saya, saya miskin," ujar Aura.

"Bukan minta pajak, saya balik, Anda miskin, tapi jangan sok kaya. Orang miskin itu prihatin membangun masa depan. Seluruh pengeluaran ditekan, digunakan untuk masa depan, bisnis, pengembangan mandiri, lah ini rumah gak punya, tinggal di bantarang sungai," ujar Dedi.

Dalam forum tersebut, mayoritas warga menyatakan setuju dengan kebijakan penghapusan acara wisuda dan study tour karena alasan keadilan dan keringanan biaya.

Dedi tetap menawarkan solusi, yaitu membolehkan siswa mengadakan acara perpisahan secara mandiri tanpa melibatkan sekolah, agar tidak ada pungutan resmi yang membebani orangtua maupun sekolah.

"Bikin aja sendiri, kumpul-kumpul teman, tapi jangan melibatkan sekolah," ujar Dedi.

(Sumber : TribunBekasi.com,Muhammad Azzam/maz/Kompas.com)

Baca berita TribunBekasi.com lainnya di Google News

Ikuti saluran TRIBUN BEKASI di WhatsApp

 

  

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved