Jumat, 8 Mei 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

Berita Karawang

KKP Ubah Tambak Udang Jadi Modelling Klaster Budidaya Nila Salin di Karawang

Modelling klaster bubidaya nila salin di Karawang dibangun dengan luas area 36 hektare dan akan diperluas 44 hektare.

Tayang:
Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Ichwan Chasani
TribunBekasi.com/Muhammad Azzam
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono usai meninjau modelling klaster bubidaya nila salin di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budi Daya (BLUPPB) Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang pada Jumat, 2 Februari 2024. 

TRIBUNBEKASI.COM, KARAWANG — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI mengubah tambak udang menjadi modelling klaster bubidaya nila salin di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budi Daya (BLUPPB) Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang pada Jumat (2/1/2024).

Pembangunan modelling tersebut merupakan salah satu upaya meningkatkan produksi ikan nila nasional dan menjadikan sebagai salah satu komoditi strategis yang bisa menjadi andalan Indonesia ke depannya.

"Ini adalah bekas tambak udang yang sudah tidak berfungsi dengan baik dan minim produktifitasnya. Kita mencoba untuk ubah modifikasi dengan tidak lagi dengan udang tapi dengan nila salin," kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono usai meninjau lokasi pada Jumat (2/2/2024).

Sakti Wahyu Trenggono melanjutkan, modelling klaster bubidaya nila salin di Karawang dibangun dengan luas area 36 hektare dan akan diperluas 44 hektare.

Adapun total investasi pembangunan Rp 76 miliar lebih dan diproyeksikan balik modal sekira 2 tahun.

Sakti Wahyu Trenggono - 2 Feb
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono usai meninjau modelling klaster bubidaya nila salin di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budi Daya (BLUPPB) Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang pada Jumat, 2 Februari 2024.

Secara hitungan, budidaya nila salin di Karawang ini dapat menghasilkan 7.070 ton per siklus atau 87,7 ton per hektare per siklus, satu siklus itu 7-8 bulan.

"Kita dapat profit Rp 5.500 per kilogram sehingga total nilai margin profit itu mencapai Rp 38 miliar per siklus," imbuhnya.

Menurutnya, pembangunan modelling klaster bubidaya nila salin memiliki potensi nilai pasar cukup tinggi yakni mencapai 13,9 miliar dolar AS.

Baca juga: KPU Kabupaten Bekasi Temukan 29 Ribu Surat Suara Pemilu 2024 Mengalami Kerusakan

Baca juga: Bupati Karawang Minta Dana Desa Diprioritaskan Pemulihan Ekonomi dan Penanganan Stunting

Baca juga: Kantongi Izin Kampanye Akbar Anies-Cak Imin di Stadion JIS, Timnas AMIN Tetap Siapkan Alternatif

Baca juga: Layanan Samsat Keliling di Kota/Kabupaten Bekasi dan Karawang, Jumat 2 Februari 2024 Cek Lokasinya

Maka, pihaknya akan terus mengembangkannya. Apalagi di kawasan pantura ini ada 78.000 hektare lahan bekas budidaya udang yang dapat dimanfaatkan untuk budi daya tilapia terutama jenis nila salin.

“Ada luasan 78 ribu hektare di pantura yang sekarang ini tidak berfungsi dengan baik. Saya kira ini bisa pemerintah turun tangan buat modifikasi lakukan revitalisasi menjadi budidaya nila salin," beber dia.

Menurutnya ikan nila salin ini lebih tanah lama di area tambak wilayah pantura. Dibandingkan udang karena sudah banyak terkontaminasi dengan kondisi alam sekarang ini.

Dengan mengganti komoditas yang lebih tahan salah satunya adalah ikan tilapia dalam hal ini nila salin.

"Jika ini berjalan baik terus kita kembangkan ke seluruh lahan di pantura, maka diprediksi ada 2 juta ton per siklus. Ini suatu nilai yang sangat besar, dan tentu sangat membantu masyarakat khususnya nanti para petambak atau petani," katanya.

Baca berita TribunBekasi.com lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved