Berita Daerah
Suneri Bersyukur Pemerintah Gelar PTM, karena Pikiran Terbelah saat Anak Belajar Daring
Suneri, seorang ibu yang bekerja. Dia bersyukur pemerintah gelar PTM, karena pikirannya kerap terbelah saat belajar daring.
Penulis: Junianto Hamonangan | Editor: Valentino Verry
TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA - Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang digelar mulai 30 Agustus 2021 menjadi angin segar bukan hanya para peserta didik tapi juga mereka yang menjadi orang tua murid.
Salah satu orang tua murid, Suneri (32) mengaku bersyukur dengan adanya PTM.
Baca juga: Data Sebaran Kasus Covid-19 di Kabupaten Bekasi, Hanya Tiga Kecamatan Ini Nihil Kasus Virus Corona
Pasalnya, sang buah hati kini menjadi lebih bersemangat saat PTM ketimbang belajar secara daring.
“Lebih efektif dan anak saya lebih semangat tatap muka, dan saya juga sebagai orang tua jadi lebih terbantu dengan tatap muka,” kata Suneri, saat akan menjemput anaknya SDN Pegangsaan Dua 06, Jakarta Utara, beberapa saat lalu.
Menurut Suneri, belajar daring tidak efektif bagi anaknya yang duduk di kelas 6A SDN Pegangsaan Dua 06.
Pasalnya, anak juga menjadi kurang serius saat tidak berhadapan dengan guru.
Ditambah lagi pekerjaan Suneri sebagai anggota PPSU Pegangsaan Dua juga membuat pikirannya terbelah antara harus mengurus anak ikut belajar daring dengan tugas di luar rumah.
Baca juga: Target Vaksinasi Covid-19 Dosis Pertama dan Kedua Selesai Akhir Tahun, Bupati Karawang: 100 Persen!
“Di rumah kendalanya anak diajarin orang tua nggak kayak sama guru, disuruh cepat malah santai. Kita juga kan ada kerjaan lain, ngajarin anak lebih efektif PTM,” ucapnya.
Sehingga terkadang antara dirinya dengan sang buah hati ada selisih paham saat harus menemani belajar daring yang membutuhkan kuota internet tidak sedikit.
“Saya sering berantem sama anak karena anak diajarin orangtua dan saya, orangtua nggak sabar seperti guru. Apalagi anaknya santai sementara saya pengen buru-buru, jadi anak ogah,” ujarnya.
Ditambah tidak semua pelajaran yang fiberikan guru dimengerti oleh peserta didik.
Sementara untuk berinteraksi dengan guru tidak semudah bertatap muka seperti biasanya.
Baca juga: Kasus Covid-19 Masih Terjadi di 20 Kecamatan di Kabupaten Bekasi, Berikut Data Penyebarannya
“Kalau nanya ke guru kan enak, langsung dijelasin jadi masuk. Kalau di rumah, saya sendiri, mau buat jelasin juga kurang,” tuturnya.
Suneri pun ada kekhawatiran pendidikan yang didapat dengan cara daring tidak akan maksimal sebagai bekal untuk menimba ilmu yang lebih tinggi lagi daripada sekarang.
“Ada khawatir juga, guru kan lebih detil (jelasin) kalau langsung. Kadang kita musti nanya di online (belajar daring),” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bekasi/foto/bank/originals/ilustrasi-daring.jpg)