Breaking News:

Fenomena Artis Beli Klub Sepak Bola, Baik atau Buruk?

Fenomena artis ramai-ramai membeli klub sepak bola dinilai menguntungkan banyak pihak.

Penulis: Ign Agung Nugroho | Editor: AC Pinkan Ulaan
Instagram RANS Cilegon FC
Raffi Ahmad di tengah-tengah skuad RANS FC Cilegon, usai laga final Liga 2 melawan Persis Solo. Rans FC menjadi runner-up Liga 2 2021 setelah dikalahkan Persis Solo 1-2. 

TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA - Masyarakat sedang disajikan sebuah fenomena baru di Indonesia, yakni para artis rama-ramai membeli klub sepak bola.

Selain Raffi Ahmad dan Atta Halilintar, Gading Marten pun mengikuti jejak kedua pesohor tadi..

Bahkan, kabarnya Prilly Latuconsina pun punya rencana yang sama. Fenomena apa ini?
Menurut Lutfi JW, pengamat perilaku dan instruktur (trainer) komunikasi kreatif, hal ini adalah fenomena bisnis psikososial yang memiliki sisi baik dan buruk.

Dia melihat sepak bola adalah olahragayang paling digemari masyarakat dunia, dari berbagai level atau strata.

Bahkan, banyak orang yang merasa hidupnya seperti hampa tanpa sepak bola.

"Artinya secara psikologis, olahraga ini sangat besar efeknya bagi kejiwaan manusia. Beberapa sampai stres, depresi, bahkan bunuh diri ketika klubnya kalah. Di lain sisi, satu negara bisa euforia ketika menang Piala Dunia atau juara dalam kompetisi," kata Lutfi JW dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu (12/1/2022).

Lutfi JW, pengamat perilaku dan instruktur (trainer) komunikasi kreatif, menanggapi fenomena artis membeli klub sepak bola.
Lutfi JW, pengamat perilaku dan instruktur (trainer) komunikasi kreatif, menanggapi fenomena artis membeli klub sepak bola. (Dokumen pribadi)

 

Bisnis besar

Sepanjang pengamatannya, sepak bola sudah menjadi bisnis yang sangat besar dan memiliki potensi mengeruk laba yang sangat signifikan.

Halaman
123
Sumber: Wartakota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved