Keluarga

Ayah Ibu, Obesitas kini Digolongkan sebagai Penyakit dan Bisa Menimpa Anak Lho, Begini Pencegahannya

Obesitas telah dimasukkan ke kategori penyakit, dan bisa menimpa manusia sejak usia dini.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Pexel.com/Mali Maeder
Obesitas adalah penyakit, dan bila terjadi di anak bisa meningkatkan risiko anak mengalami komplikasi penyakit. Keterangan foto: (ilustrasi) 

Kemudian di bagian paru-paru, anak kemungkinan bisa mengalami asma atau sleep apnea pada saat tidur. Sleep apnea merupakan gangguan tidur yang menyebabkan pernapasan seseorang berhenti sementara selama beberapa kali. Hal ini bisa ditandai dengan mengorok saat tidur.

Di bagian jantung kemungkinan bisa terjadi kelainan jantung, atau kolesterolnya tinggi, atau bisa juga peningkatan tekanan darah.

Sementara di bagian hati terjadi perlemakan, dan di perut anak bisa mengalami gerd.

Selanjutnya di pankreas bisa berisiko diabetes tipe 2, dan lutut bisa terjadi artritis atau nyeri pada sendi.

"Dan bisa juga kakinya bengkok akibat penimbunan berat badan yang sangat masif dalam waktu yang sangat singkat. Tak hanya itu, bagian reproduksinya biasanya kalau anak perempuan bisa jadi menstruasinya tidak teratur atau mungkin lebih cepat daripada kawan-kawannya. Itu yang harus kita hindari," kata dr Winra.

Pencegahan obesitas

Untuk pencegahannya, lanjut dr Winra, bisa dimulai sejak dini, yakni memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi 0-12 bulan secara eksklusif selama 6 bulan.

Kemudian setelah usia 6 bulan anak diberikan MPASI dengan cara yang benar.

Orangtua didorong untuk menawarkan makanan baru secara berulang, untuk menghindari minuman manis.

Pada bayi 12-24 bulan ibu harus mencegah anak dari minuman manis, hindari konsumsi jus dan kental manis yang berlebihan.

Setiap anggota keluarga harus dibiasakan makan bersama di meja makan, kemudian televisi dimatikan selama proses makan.

"'Yang harus diperhatikan, orangtua tidak boleh membatasi jumlah makan tapi memastikan bahwa makanan yang tersedia sehat serta disertai buah dan sayuran. Makanan selingan hanya diberikan sebanyak 2 kali, dan hanya menawarkan air putih bila haus bukan minuman manis," ucap dr. Winra

Selanjutnya, anak tidak boleh diberikan makanan berkalori tinggi sebagai camilan, anak juga harus mempunyai kesempatan aktif secara fisik untuk bermain di luar rumah.

Orangtua juga harus membatasi anak nonton TV, dengan tidak meletakkan televisi di kamar tidur anak.

Selain itu, orangtua juga harus menjadi model percontohan untuk selektif dalam menentukan makanan yang dikonsumsi oleh anak.

"Hargai selera makan anak, jadi anak harus diberi makanan sesuai rasa lapar dan rasa kenyang anak. Tidak memaksakan harus habis satu porsi," tandas dr Winra.

Sumber: Kementerian Kesehatan

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved