Sabtu, 16 Mei 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

Berita Bekasi

Dinas LH Angkut Empat Ton Sampah dari Kali Penombo

Sampah yang tersangkut di Kali Penombo merupakan sampah bawaan yang terbawa arus dari wilayah hulu, yakni Kali Cikarang.

Tayang:
Penulis: Rangga Baskoro | Editor: Ichwan Chasani
TribunBekasi.com/Rangga Baskoro
Petugas Dinas Lingkungan Hidup dan Muspika Muaragembong berjibaku mengangkut empat ton sampah dari Kali Penombo, Muaragembong. 

TRIBUNBEKASI.COM, MUARAGEMBONG — UPTD Pengelolaan Sampah Wilayah I Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi bersama muspika Kecamatan Muaragembong melakukan pengangkutan sampah di Kali Penombo, Desa Pantai Harapanjaya, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi.

Kepala UPTD Pengelolaan Sampah Wilayah I Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Bekasi Abdul Muid menjelaskan pihaknya menerjunkan sebanyak 40 personel beserta 13 unit truk sampah untuk melakukan  pengangkutan.

"Kami baru saja melakukan kegiatan pengangkutan sampah di Kali Penombo bekerjasama dengan masyarakat dan kecamatan Muaragembong," tutur Abdul Muid saat dikonfirmasi, Senin (7/11/2022).

Abdul Muid mengatakan sampah yang tersangkut di Kali Penombo merupakan sampah bawaan yang terbawa arus dari wilayah hulu, yakni Kali Cikarang.

Ada pun Kali Cikarang dilalui oleh empat kecamatan berbeda yakni Sukatani,  Sukawangi, Cibitung, Cikarang Utara hingga berujung di Kali Penombo di Muaragembong.

BERITA VIDEO : DANI RAMDAN TURUN KE KALI BANTU BERSIHKAN SAMPAH

"Ya memang ini sampah kiriman dari hulu. Kami dari tahun ke tahun selalu kebagian sampah kiriman karena memang wilayahnya kami di hilir," ujarnya.

Abdul Muid mengatakan telah membuat jaring maupun pembatas yang terbuat dari rangka beso agar sampah-sampah tersebut jangan sampai tersangkut di Kali Penombo.

Namun demikian, jaring tersebut kerap hilang sehingga sampah-sampah kembali terbawa arus hingga tersangkut di Kali Penombo.

"Saya harap kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke aliran Kali, karena akan berdampak bagi masyarakat yang berada di wilayah hilir. Bahkan baru saja kami bersihkan, enggak lama kemudian datang lagi sampahnya karena kebawa arus," tutur Muid. 

Baca juga: Gelar Apel Gabungan, Polres dan Kodim Siap Wujudkan Karawang Tetap Kondusif

Baca juga: Kecelakaan Bisa Meningkatkan Kemiskinan, Ternyata Ini Faktor Penyebabnya!

Sampah Rumah Tangga

Sebelumnya diberitakan, tumpukan sampah juga terkonsentrasi di aliran Kali Irigasi Jalan Baru, Duren Jaya, Bekasi Timur, Kamis (27/10/2022).

Kondisi ini tentunya membuat aliran terhambat hingga menimbulkan bau tak sedap.

Camat Bekasi Timur, Kota Bekasi, Fitri Widyanti merespon terkait kondisi aliran kali Irigasi tersebut yang dipenuhi dengan sampah.

Menurut Fitri Widyanti, tumpukn sampah tersebut sudah kerap kali dibersihkan oleh petugas, hanya saja seiringnya waktu sampah kembali datang.

"Itu sudah kita angkut bukan hanya sekali saja ya. Ya jadi gini ini udah berbagai upaya sudah kita pasang jaring, agar sampah ngak jauh terbawa arus, nanti baru di angkut oleh LH tapi ya akhirnya begitu lagi," kata Fitri Widyanti, Kamis (27/10/2022).

Baca juga: Melorot Rp 3.000 Per Gram, Harga Emas Batangan Antam di Bekasi Senin Ini Jadi Rp 951.000 Per Gram

Baca juga: Sukses Berkarier Jadi Artis, Prilly Latuconsina Kini Pasrah Belum Berhasil Temukan Jodoh

Meski sudah beberapa upaya dilakukan dan pembersihan dilakukan setiap hari oleh petugas pematusan sumber daya air (SDA), namun sampah tersebut terus saja, kembali muncul terbawa arus, sehingga menumpuk di aliran Kali.

"Itu mengalir dari saluran sekunder Rawa Baru. Itu kan panjang. Itu kali pengairan dulunya itu. Memang ada berbagai macam sampah dari mana kita juga belum tahu, karena pasti ada lagi," bebernya.

Fitri Widyanti menyatakan jika melihat aliran kali yang berdekatan dengan pemukiman, diperkirakan sampah-sampah itu berasal dari sampah rumah tangga yang dibuang oleh masyarakat yang tidak bertanggung jawab.

Oleh karena itu, pihak Kecamatan Bekasi Timur sudah kerap kali melakukan edukasi ke masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan ke kali.

Selain membuat kali menjadi kotor tentunya juga bisa mengakibatkan terjadinya banjir, apalagi saat ini sudah masuk musim penghujan.

Baca juga: Dear Moms! Ayo Kenali Gejala Gagal Ginjal Akut Sejak Dini dan Langkah yang Harus Dilakukan 

Baca juga: Berbalik Turun, Emas Batangan Antam di Bekasi, Jumat Ini Dijual Rp 944.000 Per Gram, Ini Rinciannya

"Kami sudah berupaya mengimbau masyarakat sekitar karena itu sampah masyarakat yang dibuang ke kali. Makanya ini yang paling penting pola perilaku masyarakatnya. Sebenarnya itu sudah diangkut, tapi setelah habis ada lagi terus," ucapnya.

Sampah Jadi Duit

Sebelumnya diberitakan, pengelola Pusat Daur Ulang (PDU) Mekarmukti menegaskan sebelum pusat daur ulang tersebut dibuat, cukup banyak tempat pembuangan sementara (TPS) ilegal di wilayahnya.

Sejumlah lokasi kosong dijadikan tempat pembuangan sampah-sampah rumahan tanpa ada penanganan maupun pengangkutan.

"Memang sampah di sini kebanyakan enggak diangkut ke TPA Burangkeng, jadi ada lahan kosong, dipakai buat buang sampah. Sampai penuh, cari lagi lahan kosong, enggak di apa-apain sampahnya," ungkap Kepala Pusat Daur Ulang (PDU) Mekarmukti, Jaenudin, saat di temui di lokasi PDU, Selasa (27/9/2022).

Ia bersyukur akhirnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyoroti permasalahan tersebut, sehingga pusat daur ulang dibuat pada Juni 2021 lalu.

Baca juga: Enam Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum Kini Tersedia di Karawang, Berikut Titik Lokasinya

Baca juga: Sidang Bharada E Hari Ini Bakal Digabung dengan Ricky Rizal dan Kuat Maruf, 12 Saksi Dihadirkan

Jaenudin mengatakan dalam sehari, pihaknya mengelola sebanyak 500 kilogram sampah daur ulang, seperti botol plastik, rongsokan dan kardus.

"Sejak ada PDU, mulai TPS ilegal berkurang karena kami juga kerjasama dengan TPA Burangkeng agar yang residu langsung diambil. Kira-kira dalam sehari bisa mengurangi 100 kilogram residu," ucapnya.

Pihaknya pun sangat menjaga kebersihan lokasi pusat daur ulang agar tidak meninggalkan bau busuk hasil sampah-sampah rumahan yang tidak bisa didaur ulang.

Baca juga: Tim SAR Gabungan Turun Tangan Cari Balita yang Dikabarkan Hilang di Kali Tambun Bekasi

Baca juga: Naik Angkot Hadiri Sidang Mediasi, Dedi Mulyadi: Istri Jadi Bupati Malah Saya Digugat Cerai

"Beberapa sampah yang diangkut di sini, yang residunya kami pisahkan, kemudian kami minta langsung diangkut ke TPA. Sisanya, 1.200 anggota kami memisahkannya sendiri di rumahnya sehingga hanya yang bernilai ekonomis yang dibawa ke sini," tutur Jaenudin.

Kini, pusat daur ulang menaungi sebanyak tujuh bank sampah yang berlokasi di perumahan warga, baik di Mekarmukti maupun wilayah lainnya.

Dulang pundi-pundi rupiah

Pusat Daur Ulang (PDU) di Kampung Cibereum, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, berhasil mendulang pundi-pundi rupiah melalui penjualan sampah-sampah dari masyarakat.

Kepala PDU Mekarmukti, Jaenudin mengatakan sampah-sampah bernilai ekonomis tersebut dikumpulkan dari tujuh bank sampah yang terletak di perumahan masyarakat.

"Jadi awalnya kami datang ke perumahan, kemudian sosialisasi, lalu dipilih lah satu orang untuk jadi koordinator bank sampah. Warga-warga yang menjadi anggota ibaratnya nyetor sampah ke koordinator itu," ucap Jaenudin saat ditemui di lokasi, Selasa (27/9/2022).

Baca juga: Bupati Purwakarta Anne Ungkap Alasan Gugat Cerai Dedi Mulyadi, karena Melanggar Syariat Islam

Baca juga: Pemkab Karawang Buka Seleksi Terbuka JPT Pratama Mulai Hari ini, ASN Eselon III Boleh Ikut Seleksi

Ia memahami bahwa tak adanya lokasi bank sampah menjadi permasalahan tersendiri bagi pihaknya dan koordinator pengelola bank sampah.

Alhasil, ia melakukan pengambilan sampah dengan cara mengatur jadwal dengan para koordinator sehingga ketika waktunya tiba, mereka hanya tinggal menyetorkan sampah ke pihaknya.

"Janjian dulu sama koordinatornya. Lalu ngumpul di suatu tempat, lalu dicatat siapa saja yang nyetor, jumlahnya berapa. Jadi kami enggak perlu sortir lagi karema mereka sudah kami edukasi sebelumnya," tuturnya.

Sampah tersebut kemudian dibawa ke PDU untuk dilakukan pengumpulan. Setelah itu dijual kepada pengepul, maupun pihak swasta.

PDU diketahui telah dilengkapi dengan sejumlah mesin yang digunakan untuk mengolah sampah organik maupun organik. Seperti pengepressan botol bekas maupun penggilingan sampah organik untuk pembuatan kompos.

"Alhamdulillah kami sudah jalin kerjasama dengan beberapa pihak swasta untuk ngambil botol bekas sama minyak jelantah. Kalau kardus kami jual ke pengepul," ujar Jaenudin.

Namun demikian, Jaenudin menjelaskan pihaknya terbentur kendala minimnya petugas sehingga belum bisa memasok sampah plastik dan minyak jelantah dalam jumlah yang banyak. 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved