Sabtu, 30 Mei 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

Pertamina Membela Diri, Bantah Pertamax Adalah Pertalite yang Dioplos dengan Bahan Adiktif

Pertamina menegaskan tidak melakukan praktik upgrade blending atau pencampuran untuk mengubah Pertalite menjadi Pertamax. 

Tayang:
Penulis: | Editor: Ign Prayoga
Tribunnews.com/Chaerul Umam
PERTAMAX PALSU - Sejumlah anggota Komisi XII DPR RI mencecar pejabat Pertamina Patra Niaga, mengenai isu praktik oplos pertalite menjadi pertamax, dalam pusaran kasus korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang di PT Pertamina (Persero) periode 2018-2023. Hal itu terjadi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Plt Dirut Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra, pada Rabu (26/2/2025). 

TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA - Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah mengusut dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang Pertamina periode 2018-2023 yang mengakibatkan kerugian negara hampir Rp 200 triliun

Kejagung juga telah menetapkan tujuh tersangka dalam kasus korupsi di lingkungan Pertamina ini.

"Setelah memeriksa saksi, ahli, serta bukti dokumen yang sah, tim penyidik menetapkan tujuh orang sebagai tersangka," kata Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Abdul Qohar,  Selasa (25/2/2025).

Para tersangka diduga membeli Pertalite (RON 90) untuk dioplos dengan bahan tertentu lalu dijual sebagai Pertamax (RON 92).

Aksi tipu-tipu menyulap Pertalite jadi Pertamax ini mengakibatkan kerugian negara hingga Rp 193,7 triliun. 

Namun Pertamina membantah keras tuduhan tersebut.

Pelaksana Tugas Harian (PTH) Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menegaskan pihaknya tidak melakukan praktik upgrade blending atau pencampuran untuk mengubah Pertalite menjadi Pertamax. 

Hal ini disampaikan Ega dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/2/2025).

Ega memastikan bahwa produk yang diterima dan dijual di SPBU telah sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan.

Menurutnya, bahan dasar BBM yang didatangkan dari dalam negeri maupun diimpor dari luar negeri, seluruhnya sudah sesuai spesifikasi yakni RON 90 untuk dipasarkan sebagai Pertalite dan RON 92 sebagai Pertamax.   

"Meskipun sudah berada di RON 90 dan 92 itu sifatnya masih base fuel artinya belum ada adiktif, itu yang kita terima di Pertamina Patra Niaga," kata Ega.

Ega menjelaskan, Pertamina Patra Niaga mengelola bahan bakar mulai dari terminal hingga ke SPBU. 

Sementara itu, proses pengangkutan bahan bakar dari kilang ke terminal dilakukan oleh kapal milik Pertamina.

"Tidak ada proses perubahan RON, tetapi yang ada itu Pertamax kita tambahkan adiktif. Jadi di situ ada proses penambahan adiktif dan proses penambahan warna. Proses inilah yang memberikan keunggulan perbedaan dalam produk," ujar Ega.

Ega menjelaskan bahwa proses penambahan aditif ini dikenal sebagai injection blending. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved