Berita Bekasi
Menilik Akar Bahar, Diburu Kolektor karena Diyakini Punya Khasiat Kesehatan dan Nilai Spiritual
Menjual akar bahar bukan sekadar berdagang, namun juga bagian menjaga tradisi dan cerita lama yang masih hidup di tengah masyarakat.
Penulis: Rendy Rutama | Editor: Ichwan Chasani
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI UTARA — Tribuners, beberapa dari kalian mungkin sudah ada yang mengetahui apa itu akar bahar.
Jika belum pernah mengetahui apa itu akar bahar, kali ini jurnalis TribunBekasi.com mengulik hewan laut tersebut yang kerap dimanfaatkan sejumlah orang untuk beragam keperluan.
Seorang pedagang aksesori dari akar bahar, Muksin (43) mengatakan hewan laut berwarna hitam pekat menyerupai kayu itu dikenal sebagian orang memiliki khasiat untuk kesehatan, sekaligus dipercaya menyimpan nilai spiritual.
"Kalau kesehatan, biasanya buat peredaran darah, penyedot kotoran lah kasarnya. Bisa juga buat terapi, kayak digesek di kaki pakai minyak lalu ke badan. Kalau bentuknya gelang, ya sekadar pemanis tangan aja," kata Muksin saat ditemui di Kali Abang Tengah, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Senin (18/8/2025) siang.
Muksin menjelaskan akar bahar tidak ditemukan di Bekasi, sehingga perlu didatangkan dari Papua atau Ambon.
Mengingat kuantitasnya yang terhitung langka, harganya pun menjadi bervariasi.
Baca juga: Bangunan Kewedanaan Rengasdengklok Karawang Saksi Bisu Kemerdekaan RI Terabaikan
Baca juga: HINDARI, Ada Perbaikan Jalan di Tol Japek, Ini Titik dan Waktu Pekerjannya
Sejumlah faktor tersebut itulah yang menjadikan akar bahar kerap diburu oleh para kolektor benda-benda unik.
Peminat akar bahar kerap muncul ketika menjelang acara besar atau kegiatan adat.
Namun, tidak sedikit juga yang mencarinya untuk aktivitas sehari-hari.
“Harganya mulai Rp60 ribu, ada juga Rp250 ribu, dan terus sampai Rp700 ribu, yang hitam pekat dan biasa dicari kolektor bisa sampai Rp1,5 juta," jelas Muksin.
Laki- laki yang sudah 15 tahun berjualan aksesoris berbahan akar bahar itu menuturkan proses pembuatan hingga menjadi karya tangan pun perlu melewati beberapa tahapan.
Dimulai ketika akar bahar dipanaskan atau direndam air panas hingga lentur, lalu dibentuk menjadi gelang.
Baca juga: Saat Momen Libur HUT ke-80 RI, 320 Ribu Kendaraan Meninggalkan Jabodatabek
Baca juga: Ketua DPRD Dukung Rumah Pengasingan Soekarno-Hatta di Rengasdengklok Dibeli Jadi Aset Negara
"Saat lembek, kita tekuk-tekuk sampai sesuai bentuk. Kalau kena air laut, misalkan mandi di laut, bisa mekar sendiri, tapi nanti balik lagi," tuturnya.
Menurut Muksin, menjual akar bahar bukan sekadar berdagang, namun juga bagian upaya menjaga tradisi dan cerita lama yang masih hidup di tengah masyarakat.
"Jualan sekaligus menjaga tradisi di masyarakat biar tidak punah juga," pungkasnya.
Baca berita TribunBekasi.com lainnya di Google News
Ikuti saluran TRIBUN BEKASI di WhatsApp.
| Hardiknas 2026, Apa Target Pemkab Bekasi untuk Pendidikan Berkualitas? |
|
|---|
| May Day 2026, Buruh Kabupaten Bekasi Tolak Upah Murah dan Outsourcing |
|
|---|
| Tukang Seblak Menjerit, Kencur Langka dan Harga Naik 2 Kali Lipat |
|
|---|
| Dua Siswi di SMAN 2 Kota Bekasi yang Ribut Hingga Viral Diusulkan Jadi Duta Cegah Kekerasan |
|
|---|
| Viral Siswi SMAN 2 Bekasi Lakukan Perundungan, KPAD Usulkan Jadi Duta Cegah Kekerasan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bekasi/foto/bank/originals/Penjual-akar-bahar-18-Ags.jpg)