Selasa, 2 Juni 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

Berita Viral

Murid SD di Ngada NTT Akhiri Hidup, Keluhkan Soal Buku Tulis dan Pena

Kabar duka datang dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang murid sekolah dasar di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada

Tayang:
Editor: Joseph Wesly
Tribunnews/CHARLES ABAR
MURID SD BUNUH DIRI- Kadis Kependudukan dan Pencatatan sipil Kabupaten Ngada Gerardus Reo saat mendatangi rumah keluarga YBR (10) murid SD yang diduga bunuh diri di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Selasa 3 Februari 2026. Sebelum meninggal korban mengeluh soal buku tulis dan pena. 

Ringkasan Berita:
  • YBR (10), murid SD di Desa Naruwolo, Ngada, ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri dengan cara gantung diri di depan pondok bambu tempat tinggalnya bersama nenek.
  • Korban hidup dalam keterbatasan ekonomi, tinggal terpisah dari orang tua, membantu nenek berjualan, dan sempat mengeluhkan kebutuhan sekolah seperti buku dan pena.
  • Disdukcapil Ngada menemukan masalah administrasi kependudukan yang membuat keluarga korban luput dari bantuan sosial dan langsung memproses pendataan ulang.

 

TRIBUNBEKASI.COM, NGADA– Kabar duka datang dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang murid sekolah dasar di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, meninggal dunia diduga bunuh diri.

Korban berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) siang. Bocah tersebut selama ini diketahui tinggal bersama neneknya di sebuah pondok bambu.

Dia ditemukan tewas tergantung di pohon depan pondok yang dia tinggali bersama sang nenek. Sedangkan sang ibu tinggal di lokasi lain dan sang ayah merantau tidak kembali selama 12 tahun.

Tinggal di Pondok Bambu Bersama Nenek

YBR hidup di sebuah gubuk bambu berukuran sekitar 2 x 3 meter. Pondok itu menjadi tempat tinggalnya sejak masih balita, setelah ia berpisah dari ibu kandungnya dan diasuh sang nenek.

Ayah korban telah merantau ke Kalimantan sejak sekitar 11 hingga 12 tahun lalu dan tak pernah kembali ke kampung halaman.

Dalam kesehariannya, YBR membantu neneknya berjualan sayur, ubi, dan kayu bakar. Untuk kebutuhan makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, dengan pisang dan ubi sebagai makanan utama.

Keluhkan Buku dan Pena

Menurut keterangan keluarga dan warga sekitar, YBR dikenal sebagai anak pendiam dan penurut. Ia jarang mengeluh dan tidak pernah menunjukkan perilaku mencurigakan.

Keluhan yang pernah ia sampaikan pun sangat sederhana, yakni kebutuhan sekolah seperti buku tulis dan pena.

“Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami,” ujar sang nenek lirih saat ditemui, Selasa (3/2/2026).

Pagi Terakhir Sebelum Tragedi

Ibu kandung korban, Maria Goreti Te’a (47), mengenang pagi terakhir sebelum kejadian. Saat itu, YBR mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah.

Namun karena khawatir tertinggal pelajaran, sang ibu tetap meminta YBR masuk sekolah dan mengantarnya menggunakan ojek.

Tak disangka, siang hari kabar duka itu datang dari warga sekitar.

“Saya kaget ada kabar dari tetangga. Saya pikir anak saya sedang di sekolah,” kata Maria.

Tekanan Ekonomi dan Luput Bantuan Sosial

Dari pantauan lapangan, keluarga YBR hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan. Sejak ditinggalkan kepala keluarga, pengasuhan anak-anak terpisah.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved