Senin, 27 April 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

Banjir Sumatra

Greenpeace Ungkap Eksploitasi Sejak Orde Baru Perparah Banjir Bandang Sumatra

Greenpeace sebut banjir bandang Sumatra diperparah krisis iklim dan eksploitasi hutan sejak Orde Baru dengan 836 korban tewas.

Editor: Mohamad Yusuf
Diskominfo Karawang
BANJIR DAN LONGSOR - Foto udara yang diambil dari drone pada 27 November 2025 menunjukkan wilayah yang dilanda banjir di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh. Sembilan orang tewas akibat banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa kabupaten dan kota di Provinsi Aceh, di ujung utara Pulau Sumatra, Indonesia, kata pejabat setempat pada hari Kamis. 

Ringkasan Berita:
  • Greenpeace menyebut banjir bandang dan longsor di Sumatra dipicu krisis iklim dan eksploitasi hutan sejak era Orde Baru.
  • BNPB mencatat 836 korban tewas dan lebih dari 10.500 rumah rusak akibat bencana yang terjadi sejak Senin (24/11/2025).
  • Deforestasi, kerusakan DAS, dan izin HPH era Orde Baru dinilai memperparah dampak banjir bandang.

 
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI - Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Arie Rompas, menilai bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra bukan hanya dipicu cuaca ekstrem, tetapi juga akumulasi eksploitasi hutan sejak era Orde Baru.

Ia menyebut kerusakan tutupan hutan yang menurun drastis membuat wilayah Sumatra semakin rentan ketika curah hujan tinggi datang berurutan dalam beberapa hari.

Bencana banjir bandang dan longsor melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak Senin (24/11/2025).

Baca juga: Pratikno Ungkap Kayu Gelondongan Diselidiki, DPR hingga Kapolri Turun Tangan

Baca juga: Tetap Cantik tanpa Botox dan Filler, ini Rahasia Anggun C Sasmi

Baca juga: Baru 2 Menit Parkir Dikenakan Tarif Rp 4.000, Pria Ngamuk di Polda Metro Jaya

Puncak hujan ekstrem terjadi pada Selasa hingga Kamis (25-27/11/2025), memicu ribuan rumah rusak dan ratusan korban meninggal dunia.

Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada Kamis (4/12/2025) pukul 16.00 WIB mencatat 836 orang meninggal dunia.

Sebanyak 325 korban berasal dari Aceh, 311 dari Sumatra Utara, dan 200 lainnya dari Sumatra Barat.

Selain itu, 518 orang masih hilang dan sekitar 2.700 lainnya mengalami luka-luka.

Di situs Pusdatin BNPB, tercatat 51 daerah terdampak dengan lebih dari 10.500 rumah rusak.

Kerusakan juga terjadi pada 536 fasilitas umum, 25 fasilitas kesehatan, 115 gedung kantor, 185 rumah ibadah, 326 fasilitas pendidikan, dan 295 jembatan.

Arie menjelaskan ada dua pemicu besar yang membuat dampak banjir bandang di Sumatra begitu parah.

Yang pertama adalah krisis iklim yang menyebabkan fenomena langka Siklon Tropis Senyar.

"Melihat bencana ini yang kami sebut sebagai krisis iklim sudah ada di depan mata kita, karena ada dua faktor," kata Arie saat menjadi narasumber dalam program Breaking News CNN Indonesia pada Kamis (4/12/2025).

Ia menuturkan kemunculan Siklon Tropis Senyar sangat jarang terjadi di wilayah Khatulistiwa.

"Hampir mustahil terbentuk di garis ekuator karena gaya Coriolis lemah. Tapi sekarang terjadi akibat perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia," ujarnya.

BMKG sebelumnya menyebut hujan ekstrem dipengaruhi kemunculan Bibit Siklon 95B yang menguat menjadi Siklon Tropis Senyar pada Rabu (26/11/2025).

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved