Gizi Buruk

PT Ajinomoto Terbitkan Buku Panduan Gizi agar Masyarakat Terbebas Stunting dan Gizi Buruk

PT Ajinomoto berperan aktif dalam mengatasi gizi buruk, salah satunya melalui peluncuran buku panduan SLP (School Lunch Program).

Penulis: Lilis Setyaningsih | Editor: Valentino Verry
Warta Kota/Rizki Amana
PT Ajinomoto prihatin melihat kasus gizi buruk dan stunting yang masih ada di Indonesia, karena itu diluncurkan buku panduan cara makan yang sehat. 

Menurut Dr. Rimbawan, Dosen di Departemen Gizi Masyarakat IPB sekaligus ketua project SLP, buku panduan ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa/i di pesantren maupun sekolah-sekolah umum, namun bermanfaat juga bagi tenaga pengajar di institusi pendidikan yang menerapkan.

Panduan SLP ini dijadikan tiga buku.

Buku pertama, berisikan modul edukasi gizi di pesantren yang bermanfaat untuk membekali tenaga pengajar pengetahuan dasar tentang gizi dan kesehatan untuk anak  dan remaja.

Buku kedua, berisikan modul penyediaan makan bergizi seimbang di pesantren. 

Buku kedua ini bermanfaat bagi pengelola  dan tim penyedia makan pesantren. 

Buku ketiga, berisikan kumpulan resep dan pilihan aplikasi menu lezat bergizi seimbang.

"Sebagai pilot project sebelumnya, dan di tahun ini kami mengadakan sosialisasikan program SLP ke lebih banyak pesantren, karena pengamatan kami menunjukkan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mengalami banyak kemajuan," katanya.

Baca juga: TribunNetwork Gebrak Warga Bekasi Melalui Portal Berita Online TribunBekasi.com

"Namun dalam hal pangan, gizi, dan kesehatan, masih belum mendapatkan perhatian yang proporsional," imbuhnya.

"Pada umumnya siswa/i mondok di pesantren, oleh karena itu kami menilai jika kondisi pangan, gizi dan kesehatannya baik, akan sangat berdampak pada peningkatan capaian pembelajarannya,” lanjutnya.

Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI mengatakan, project SLP ini sangat dapat mendukung dan membantu santri di pesantren meningkatkan status gizi, sehingga siswa/i lebih mudah menerima pembelajaran untuk kurikulum pendidikan formal dan agamanya.

Sumber: Wartakota
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved