Kisah Inspiratif
Badai Pandemi Tak Surutkan Perjuangan Dedah untuk Bangun Bisnisnya, Tetap Semangat dan Kerja Keras
"Yang penting kalo saya itu optimis pasti bisa dan semangat aja menjalani sama kerja keras lah. Sisanya kita serahkan ke Allah
Penulis: Joko Supriyanto | Editor: Dedy
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI --- Tujuh tahun sudah Dedah Amniyati (45) warga Bekasi, Jawa Barat menjalani karirnya di dunia bisnis.
Segala kondisi bisnisnya mulai naik dan turun pun sudah ia rasakan hingga jelang akhir 2021 ini.
Hanya ada satu pesan yang ia tekankan dalam hatinya ketika memulai perjalanan bisnis.
Yaitu optimistisme dan semangat untuk bisa berada di puncak sesuai apa yang diharapkan, serta kerja keras dalam setiap langkahnya.
"Yang penting kalo saya itu optimis pasti bisa dan semangat aja menjalani sama kerja keras lah. Sisanya kita serahkan ke Allah karena dia yang memberikan jalan rezeki kita," kata Dedeh Amniyati, Rabu (25/8/2021).
Perjalanan bisnis Dedah ini bermula ketika dirinya tengah berada di kawasan Bandung, Jawa Barat.
Disana Dedah melihat bisnis saudara yang menekuni bisnis kain ramai dikunjungi.
Kala itu di tahun 2014 kain sifon memang tengah gandrungi dalam pembuatan hijab.
Dari situlah Dedah muncul ide untuk memulai bisnis berjualan Hijab, apalagi saat itu tren Hijab tengah naik daun.
Wanita yang memutuskan berhenti sebagai salah satu Karyawan swasta ini, mulai bisnisnya dengan modal Rp. 500 ribu.
"Dengan modal segitu dapat lah kain beberapa meter, lalu saya buat lah hijabnya. Waktu itu pertama kali saya jualan itu di pinggir danau Duta Harapan Bekasi pakai mobil di situ. Dari modal Rp 500 ribu saya bawa pulang Rp. 1.800.000 ribu," katanya.
Berawal dari sini, Dedah meyakinkan diri untuk melanjutkan perjalanan bisnis, terlebih suaminya pun sangat mendukung usahanya tersebut.
Berjalan tiga bulan, Dedah mendapatkan informasi adanya binaan UMKM Kementerian Koperasi. Dari sinilah karirnya makin berkembang.
Apalagi saat itu dirinya mendapatkan dana hibah setelah menjadi binaan UMKM Kementerian.
Tak hanya binaan UMKM Kementerian dirinya juga ikut binaan UMKM Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat di tahun 2015.
Dengan mengikuti beberapa bazzar kala itu, bisnis hijabnya yang dinamai Amniya Wardrobe mulai dikenal masyarakat yang menjadikannya sebagai pelanggan tetap.
Bahkan Pemkot Kota Bekasi pun juga menjadi pelanggannya kala itu.
"Sampai suami saya pun akhirnya resign bekerja karena melihat bisnis saya. Saudara saya pun juga menyarankan agar pelanggan bertambah berjualanlah di di tempatnya, akhirnya saya sewa dua kios di Thamrin City Jakarta," katanya.
Seiring perjalanan waktu bisnisnya di dunia fashion hijab terus meroket, pendapatan 300 juta setiap harinya pun tidak mati saat itu.
Namun pada tahun 2019, melihat ekonomi Indonesia mengalami penurunan juga ikut berdampak pada bisnisnya, dari sinilah pendapatannya mulai menurun.
"Sejak ekonomi mengalami penurunan ya 2019 itu, pendapatan turun. Ya walau turun masih mending lah, keuntungan tetap masih jalan walau memang berbeda dari tahun sebelumnya," ujarnya.
Meski bisnisnya tengah berada di puncak, Bisnis yang dijalani Dedah merosot tajam setelah diterpa badai pendemi pada tahun 2020 lalu.
Apalagi saat itu ada aturan pembatasan mobilitas masyarakat, dan paling membuat terpuruk yaitu pusat perbelanjaan ditutup.
Toko miliknya di Thamrin City Jakarta pun akhirnya tak berjalan, meski hanya mengandalkan penjualan secara online dari pelanggannya, namun pemasukan yang ada pun merosot tajam saat tahun 2020, bahkan dikatakan merugi.
"Pelanggan saya itu kebanyakan dari daerah kayak Sumatera, Lampung dan lain-lain. Tapi seiring berjalan itu lama-lama pelanggan pada ilang juga. Satu tahun pertama sih mungkin belum berasa ya karena kan punya tabungan, tapi tahun kedua ini dampaknya parah," katanya.
Untuk tetap mempertahankan bisnisnya dan biaya penyewaan toko di Thamrin City Jakarta, Dedah mengaku sempat menjual beberapa aset miliknya, beberapa diantaranya juga untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi ia dan suaminya sudah tak bekerja lagi.
Melihat kondisi yang semakin terpuruk, Dedah dan suaminya pun memutuskan untuk mencari jalan agar tetap ada pemasukan, dari sinilah Dedah mulai bangkit menghadapi pandemi Covid-19 yang nyaris menghancurkan bisnisnya.
Jualan Gudeg
Walau bisnis Fashionya terdampak pandemi, hingga tak ada lagi pemasukan, Dedah pun akhirnya memutuskan untuk mencari jalan agar tetap mendapatkan pemasukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Pada Oktober 2020, lalu Dedah pun tercetus untuk memulai bisnis kuliner. Dirinya pun memutuskan untuk berjualan Gudeg makanan khas Jawa Tengah yang berbahan dasar nangka.
"Saya mikir ini sampai kapan. Kebutuhan jalan terus pemasukan ngak ada. Tapi dari situ saya mikir harus survive nih. Kalo ngandalin fashion ngak akan bisa. Makannya saya mikir tercetuslah buat bisnis kuliner," ujarnya.
Meski kembali menjalani bisnis dari awal, tak membuat hati kecil Dedah menyerah.
Berbekal dari keluarga suaminya yang berasal dari keluarga yang suka memasak, Dedah pun mencoba belajar membuat resep gudeg dari keluarga suaminya itu.
Awalnya bisnus kulinernya ini baru di promosikan dari tetangga sekitar rumahnya. Beberapa tetangga pun akhirnya merespon baik Gudeg buatan Dedah itu, hingga banyak warga juga yang membeli.
Dari sinilah, Dedah kembali bangkit untuk terus melanjutkan bisnis kulinernya itu.
Bahkan ia berlanjut untuk membuka penjualan secara online. Seiringnya waktu penjualan secara online pun mengalami kenaikan yang cukup pesat.
"Awalnya kita tawaran dulu ke tetangga, tetangga banyak yang suka, kita mulai ke online. Dari sini udah mulai banyak pesanan yang masuk, baru kita sewa lapak lah buat jualan," ungkapnya.
Melihat bisnisnya mulai naik, Dedah akhirnya membuka lapak di kawasan Cikunir, Bekasi. Disana Dedah menyewa lapak untuk menjual Gudegnya.
Tak hanya menjual secara langsung Dedah juga melayani pemesanan. Bahkan ia sempat mendapatkan pesanan hingga 100 porsi.
"Cikunir kayak Foodcourt gitu. Ada grobaknya bukan rumah makan. Jadi ngerintis lagi dari nol. Alhamdulillah dulu dari Rp.200 ribu sekarang bisa Rp.600 ribu sehari, belum di luar pesanan, online," ujarnya.
Dikatakan Dedah, gudeg buatannya ini memang berbeda dengan Gudeg lainnya.
Sebab jika Gudeg lebih terasa manisnya, kini ia menurun rasa manisnya sehingga lebih cocok di lidah masyarakat yang tidak suka makanan terlalu manis. Harga perporsi pun sekitar Rp. 30 ribu sampai Rp. 50 ribu.
"Jadi kalo saya ini pakai besek. Perporsi itu Rp. 30 ribu isinya krecek, 1 telur dan ayam satu potong. Kalo yang Rp. 50 ribu itu Gudeg, krecek, 3 telur dan 1 potong ayam. Kita jualan di Duta Harapan namanya Gudeg Djawa Amniya," katanya.
Walaupun pemasukannya belum tinggi dari penjualan Gudeg, Dedah mengaku hal itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan ditengah pandemi Covid-19.
Dirinya pun juga berpesan kepada pelaku UMKM atau warga yang memulai bisnis ditengah pandemi untuk tetap survive dan jangan menyerah.
"Ya kita hidup itu harus berjalan ya. Ga mungkin kondisi kita lagi begini langsung drop. Prinsip saya itu saya harus bergerak, harus survive. InsyaAllah kalo kita bergerak pasti Allah akan memberikan kita jalan. Laku ga laku kan yang mengerakan Allah, yang penting kita berikhtiar dan berusaha jangan malu," ucapnya.