Jumat, 17 April 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

Berita Bisnis

Punya Nilai Ekonomis, KKP Dorong Pembudidayaan Ikan Gabus Haruan

Unit produksi gabus haruan ini dibangun di lahan 1.000 meter persegi untuk menghasilkan induk unggul sebanyak 25-30 ribu ekor per tahun.

Editor: Ichwan Chasani
Dok. KKP
Ikan Gabus Haruan, ikan endemik Kalimantan. 

TRIBUNBEKASI.COM — Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), meresmikan unit produksi ikan Gabus Haruan di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, Kalimantan Selatan.

Unit produksi gabus haruan ini dibangun di lahan seluas 1.000 meter persegi. Tujuannya untuk menghasilkan induk unggul bagi pembudidaya ikan sebanyak 25-30 ribu ekor per tahun.

Pembangunan unit produksi itu diharapkan dapat mengurangi ketergantungan dari penggunaan induk di alam yang secara tidak langsung telah mengganggu keberlanjutan ekosistem perairan umum.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu mengatakan, keunggulan induk gabus haruan BPBAT ini adalah sudah terdomestikasi, adaptif terhadap lingkungan budidaya, memiliki daya tahan yang baik terhadap penyakit, dan memiliki kemampuan telusur sumber benihnya.

Tb Haeru Rahayu menambahkan, unit ini juga menjadi model usaha produksi benih dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta benih per tahun.

Baca juga: Tiga BUMN Sinergi Kembangkan Logistik Hub di Kuala Tanjung

Baca juga: Menteri Erick Thohir Dorong BUMN Produksi Minyak Goreng Seharga Rp 14.000 per Liter

"Model teknologi pembenihan ini dapat dengan mudah diadopsi masyarakat karena tidak membutuhkan lahan yang luas, dan biaya investasi yang relatif murah," ujar pria yang akrab disapa Tebe dalam keterangannya, Minggu (9/1/2022).

Ia justru juga mengungkapkan, model tersebut diharapkan dapat menjadi showcase dan trigger bagi stakeholder yang ingin melakukan budidaya ikan Gabus Haruan.

Karena ikan Gabus Haruan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi di Provinsi Kalimantan Tengah serta Kalimantan Selatan, dan merupakan salah satu komoditas yang mempengaruhi inflasi daerah.

BPBAT Mandiangin juga telah membangun unit produksi maggot di Instalasi Budidaya Ikan Bincau pada lahan seluas 1.000 meter persegi dengan proyeksi kapasitas produksi sebesar 18 ton per tahun.

Unit ini diharapkan menjadi salah satu langkah terobosan untuk mendapatkan pakan ikan dengan harga murah dan kualitas yang baik dengan menggunakan bahan baku lokal karena selama ini pakan berkontribusi lebih dari 60 persen untuk biaya produksi.

Baca juga: Menteri BUMN Angkat Jenderal Dudung Abdurachman Jadi Komisaris PT Pindad

Baca juga: Bisnis BUMN untuk UMKM, Erick Thohir: Ini Demi Keadilan dan Fairness dalam Berusaha

Menurut Tebe, pihaknya terus mendorong keberlanjutan ikan endemik, salah satunya pada komoditas ikan gabus haruan di Kalimantan Selatan.

Gabus haruan merupakan ikan yang begitu populer dengan permintaan pasar dan bernilai ekonomi yang tinggi.

Di sisi lain, keberadaannya di perairan semakin menurun akibat penangkapan secara berlebih, sehingga perlu dibudidayakan.

"Hal tersebut sejalan dengan program prioritas KKP dalam pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal," kata Tebe.

Kalimantan Selatan merupakan salah satu sentra potensial komoditas ikan gabus untuk pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya.

Pembangunan kampung budidaya yang ditujukan dalam dua hal yaitu untuk meningkatkan perekonomian daerah dan ketahanan pangan.

Kemudian yang kedua dalam rangka mendukung, keberlanjutan ikan-ikan endemik lokal. (Tribunnews.com/Ismoyo)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved