Perang Rusia Ukraina

Rusia Bombardir Masjid di Mariupol, tempat Berlindung 80 Warga Termasuk WN Turki

Masjid Sultan Sulaiman yang Akbar menjadi sasaran mortir-mortir Rusia, meskipun tempat itu menjadi tempat perlindungan bagi warga.

Penulis: AC Pinkan Ulaan | Editor: AC Pinkan Ulaan
Google map
Sebuah masjid di Mariupol menjadi sasaran bombardir Rusia. Padahal di sana menjaditempat berlindung warga. Keterangan foto: Lokasi Mariupol strategis bagi Rusia, karena berada di antara Crimea dan Donetsk dan Luhansk di timur Ukraina. Donetsk dan Luhansk adalah kawasan yang diduduki separatis Republik Donbas yang didukung Rusia. 

TRIBUNBEKASI.COM -- Serangan Rusia dalam melumpuhkan kota Mariupol tidak pandang bulu.

Bahkan sebuah masjid pun menjadi sasaran bombardir mortir Rusia. Padahal masjid itu menjadi tempat berlindung sekitar 80 warga kota.

Sebagaimana diwartakan laman Mirror, yang mengutip pernyataan Pemerintah Ukraina pada Sabtu (13/3) di Twitter, militer Rusia menghujani Masjid Sultan Sulaiman yang Akbar di kota Mariupol, sebuah kota pelabuhan di wilayah tenggara Ukraina. 

Padahal masjid itu menjadi tempat berlindung lebih dari 80 orang, baik pria, perempuan, maupun anak-anak. Termasuk warga negara Turki yang memang banyak tinggal di kota itu.

Sebelumnya Rusia menjatuhkan bom ke rumah sakit ibu dan anak di Mariupol, dan menyebabkan tiga orang tewas.

Kota penting

Militer Rusia telah mengepung dan membombardir Mariupol sejak 12 hari lalu, dengan tujuan mengambil alih kota yang penting itu.

Bagi Rusia, dengan merebut Maiupol mereka bisa menciptakan jalur yang menghubungkan Crimea dengan wilayah timur Ukraina.

Yang artinya bisa menyatukan tentara Rusia di Crimea dengan tentara separatis Republik Donbass di wilayah timur Ukraina itu.

Hanya saja Rusia mendapat perlawanan hebat dari militer Ukraina yang dibantu masyarakat kota.

Hanya saja korban jiwa tak terhindarkan, dan Pemerintah Ukraina memperkirakan 1.600 orang tewas di Mariupol selama 12 hari pengepungan itu.

Wakil Perdana Menteri Ukraina, Iryana Vereshchuk, mengatakan bahwa beberapa koridor kemanusiaan dibuka pada Sabtu kemarin, sehingga masyarakat kota, terutama perempuan dan anak-anak, bisa mengungsi ke kota-kota lain. Salah satunya adalah rute ke Zaporizhzhia.

Dia berharap agar koridor kemanusiaan itu tetap terbuka, sehingga ribuan masyarakat sipil bisa mengungsi dari kota yang terus dihujani tembakan bom itu.

Mengepung Kiev

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved