Mudik Lebaran

Pemerintah Kaji 3 Rekayasa Lalin Mudik Lebaran, Contra Flow, One Way, dan Ganjil Genap

Pemerintah mengkaji beberapa bentuk rekayasa lalu lintas, yang akan diterapkan pda masa mudik unyuk menekan kemacetan.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Pexel.com/Zeeshaan Shabbir
Pemerintah mengkaji beberapa bentuk rekayasa lalu lintas, yang akan diterapkan pda masa mudik unyuk menekan kemacetan. Keterangan foto: (Ilustrasi) 

TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mulai melakukan simulasi rekayasa lalu lintas (lalin) pada masa mudik Lebaran dan arus balik.

Sebagaimana diwartakan laman Kemenhub, berbagai bentuk rekayasa lalin sedang dikaji oleh Pemerintah, yakni contra flow, one way, dan ganjil genap.

Simulasi dilakukan untuk mencari bentuk rekayasa yang paling efektif menekan kemacetan, dengan  membandingkan rasio volume kendaraan dengan kapasitas jalan (VC Ratio) yang terkecil di antara tiga bentuk tersebut.

Jalur krusial

Tak kurang dari Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengecek kegiatan simulasi rekayasa lalu lintas di Jalan Tol Jakarta-Cikampek arah Cikampek, Jumat (15/4).

Jalur tol dari Jakarta sampai Semarang memang menjadi fokus Pemerintah, karena diprediksi akan mengalami kepadatan paling tinggi pada masa mudik Lebaran nanti.

Simulasi rekayasa lalu intas ini dilakukan sebagai ujicoba, untuk mengetahui bentuk rekayasa yang paling efektif.

“Beberapa hari ini akan dilakukan simulasi penerapan rekayasa lalu lintas, yang nantinya bisa menjadi rekomendasi yang terukur dalam pengambilan keputusan,” kata Budi Karya Sumadi.

Dia menjelaskan, diskresi rekayasa lalu lintas di lapangan akan ditetapkan oleh Korp Lalu Lintas (Korlantas) Polri.

Waktunya

Menurut Budi, saat ini pun para pemangku kepentingan tengah mendiskusikan waktu rekayasa lalu lintas mulai diberlakukan.

“Mulainya bisa di tanggal 28 April 2022 atau juga bisa lebih awal di tanggal 25 April 2022. Hasil dari simulasi ini akan segera dilaporkan dan direkomendasikan kepada Presiden,” kata Menhub.

Sektor darat menjadi yang paling krusial untuk ditangani, sebab sekitar 47 persen dari 85,5 juta pemudik diperkirakan akan menggunakan jalur darat. Baik kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor) maupun angkutan darat (bus, angkutan penyebrangan, dan lain-lain).

Jumlah pemudik pada tahun ini diprediksi meningkat sekitar 45 persen dibandingkan mudik tahun 2019 sebelum pandemi.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved