Danantara
Peneliti CSIS Anggap Kelahiran Danantara Adalah Bukti Kegagalan Kementerian BUMN
Peneliti CSIS Deni Friawan menilai pembentukan BPI Danantara merupakan bentuk pengakuan atas kegagalan Kementerian BUMN
TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA -- Presiden Prabowo Subianto baru saja meresmikan Badan Pengelola Investasi Danantara.
Lembaga yang baru dilahirkan ini mengelola aset ratusan hingga ribuan triliun rupiah.
Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menilai pembentukan BPI Danantara merupakan pengakuan atas kegagalan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Deni mengatakan, ide di balik Danantara bukanlah hal baru. Sebenarnya, konsep Danantara sudah ada sejak lama.
Bahkan, pembentukan Kementerian BUMN sendiri pada awalnya bertujuan untuk mewujudkan konsep yang serupa, yakni menciptakan sebuah "superholding".
"Sebuah institusi yang bisa mengelola sebagian besar BUMN ini, sehingga mendapatkan kinerja yang baik," kata Deni dalam acara bertajuk "Efisiensi Anggaran dan Pembentukan Danantara: Peluang Ekonomi atau Tantangan Fiskal" di kantor CSIS, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (25/2/2025).
Sayangnya, kata dia, hingga saat ini, Kementerian BUMN belum menunjukkan keberhasilan.
"Jadi ini seperti redundant. Keberadaan Danantara itu sebenarnya sama seperti kita mengatakan bahwa apa yang terjadi selama ini di Kementerian BUMN itu gagal," ujar Deni.
Deni memahami bahwa tujuan pembentukan Danantara adalah untuk membuat BUMN lebih profesional, meningkatkan daya saing, serta menarik investasi asing.
Namun, ia merasa bahwa pembentukan Danantara seolah-olah tidak membawa perubahan berarti pada struktur organisasi dan tata kelola BUMN itu sendiri.
Selain itu, Deni juga mengingatkan bahwa adanya konflik kewenangan antara Danantara dan Kementerian BUMN berpotensi memperumit kebijakan industri.
"Struktur yang ada itu sebenarnya hanya sekadar menambah layer birokrasi aja. Jadi kalau dulu misalnya dari BUMN ada holding-holding BUMN, terus kementerian BUMN," ucap Deni.
"Kalau sekarang BUMN, holding-holding BUMN, [lalu] ada yang namanya superholding Danantara, baru Kementerian BUMN. Jadi dia hanya menambah struktur layer dari birokrasi," lanjutnya.
Lebih lanjut, Deni khawatir bahwa dengan perkembangan tersebut, pemilihan posisi-posisi penting seperti CEO, COO, atau CIO bisa menimbulkan kecurigaan.
Pemiliha posisi tersebut berpotensi mengarah pada praktik 'bureaucrat capitalism', yakni pemanfaatan BUMN untuk kepentingan birokrasi atau pihak-pihak tertentu yang berkuasa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/BADAN-DANANTARA-Danantara.jpg)