Kamis, 11 Juni 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

AS Terapkan Tarif Resiprokal, Harga Emas Naik Tajam, Bitcoin Anjlok

Kebijakan terbaru Presiden AS membuat harga emas melonjak tajam mendekati 3.200 dollar AS per ounce atau sekitar Rp 51 juta per ounce

Tayang:
Penulis: | Editor: Ign Prayoga
Kontan/Cheppy A. Muchlis
HARGA EMAS -- Ilustrasi produk emas batangan Antam. Kebijakan terbaru Presiden AS membuat harga emas melonjak tajam mendekati 3.200 dollar AS per ounce atau sekitar Rp 51 juta per ounce 

TRIBUNBEKASI.COM - Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan kebijakan tarif resiprokal terhadap mitra dagangnya, langsung mengguncang pasar keuangan global. 

Tak hanya menekan pasar saham AS, kebijakan ini juga membuat harga Bitcoin anjlok dari 87.000 dollar AS (sekitar Rp 1,39 miliar) menjadi 83.000 dollar AS (sekitar Rp 1,32 miliar).

Sebaliknya, harga emas melonjak tajam mendekati 3.200 dollar AS per ounce atau sekitar Rp 51 juta per ounce, mencerminkan lonjakan minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah kekhawatiran eskalasi perang dagang global.

Penurunan tajam juga terjadi di pasar saham AS, terutama pada sektor teknologi. Indeks Nasdaq 100 merosot 2,3 persen dan S&P 500 terkoreksi 1,7 persen dalam sesi perdagangan setelah jam kerja, usai rincian kebijakan tarif diumumkan.

Sejumlah saham unggulan seperti Tesla (TSLA) dan Palantir (PLTR) anjlok sekitar 8 persen, Apple (AAPL) turun 7 persen, sementara Amazon (AMZN) dan Nvidia (NVDA) masing-masing melemah 6 persen.

Saham perusahaan ritel besar seperti Nike (NKE) dan Walmart (WMT) pun ikut tertekan, dengan koreksi masing-masing sebesar 7 persen.

Lonjakan harga emas dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi ketegangan dagang antara AS dengan mitra utamanya seperti China dan Uni Eropa.

Berdasarkan rincian kebijakan tarif, mulai 3 April AS akan mengenakan tarif sebesar 25 persen pada semua mobil impor.

Disusul tarif umum sebesar 10 persen untuk semua barang impor yang berlaku mulai 5 April.

Adapun tarif khusus terhadap sejumlah negara akan mulai berlaku 9 April, di antaranya China sebesar 34 persen, Vietnam 46 persen, Taiwan 32 persen, Korea Selatan 25 persen, Uni Eropa 20 persen, dan Swiss 31 persen.

Menurut Fahmi Almuttaqin, analis dari Reku, jika kebijakan ini diimplementasikan penuh, bukan tak mungkin inflasi di AS akan kembali naik dan membuat Federal Reserve menunda penurunan suku bunga.

“Selain itu, kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian yang ada dapat membuat investor menjadi lebih berhati-hati terhadap instrumen investasi berisiko tinggi seperti aset crypto dan saham yang dapat memberikan tekanan harga lanjutan,” jelas Fahmi melalui keterangan pers, dikutip Jumat (4/4/2025).

Namun, Fahmi menambahkan, efek jangka panjang dari kebijakan ini masih akan sangat tergantung pada respons sektor bisnis dan perilaku konsumen. Jika kebijakan ini menyebabkan meningkatnya pengangguran atau bahkan resesi, ada peluang The Fed justru mempertimbangkan pelonggaran moneter.

“Kebijakan yang ada juga dapat berubah sewaktu-waktu, khususnya jika mempertimbangkan rekam jejak Trump yang kerap menggunakan tarif impor sebagai alat negosiasi politik,” imbuhnya.

Meskipun pasar tengah tertekan, Fahmi melihat peluang bagi investor dengan toleransi risiko tinggi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved