Jumat, 17 April 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

Berita Bekasi

Bupati Bekasi Minta Perpisahan dan Kelulusan Pelajar Digelar di Sekolah Saja

Jika perpisahan sekolah harus dilaksanakan, kata Ade, jangan sampai ada membebani orangtua yang kurang mampu.

Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Dedy
TribunBekasi.com/Rendy Rutama Putra
PERPISAHAN DI SEKOLAH ---- Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunangmeminta perpisahan dan kelulusan siswa dilaksanakan di sekolah saja. 

Menurut dia, acara perpisahan adalah momen yang akan dikenang para siswa kelas 12. 

Namun hal ini dibantah Dedi Mulyadi. "Kalau tanpa perpisahan, emang kehilangan kenangan? Kenangan bukan pada saat perpisahan, tapi kenangan indah itu saat proses belajar selama tiga tahun," ujar Dedi. 

"Enggak juga sih, Pak. saya ngerasa udah lulus. Kalau gak ada perpisahan, kita tuh gak bisa ngumpul bareng atau ngerasain interaktif sama teman gitu," ujar Aura.

Aura menilai, wisuda atau acara perpisahan tetap penting sebagai bentuk kenangan bersama teman-teman, meski dengan biaya yang minimal.

Namun Dedi menegaskan, kebijakan melarang perpisahan dan study tour diberlakukan untuk meringankan beban orangtua siswa.

Dedi menyatakan, wisuda seharusnya hanya dilakukan di tingkat perguruan tinggi, bukan di TK, SMP, atau SMA.

Gubernur Jabar kemudian menyinggung kondisi Aura. "Rumahnya di bantaran kali, tapi sekolah mau gaya-gayaan ada wisuda. Rumah aja nggak punya," kata Dedi.

Dalam perdebatan tersebut, Aura menyampaikan bahwa perpisahan di sekolahnya, SMAN 1 Cikarang Utama, hanya dikenakan biaya sekitar Rp 1 juta.

Ibunya pun mengaku setuju membayar demi membangun mental anak, meski Dedi menilai hal tersebut membebani keluarga yang secara ekonomi belum mapan. 

Dedi mengingatkan, fokus utama seharusnya adalah menghemat pengeluaran untuk masa depan, bukan untuk keperluan seremonial.

Ia juga menyoroti bahwa warga yang tinggal di bantaran sungai seharusnya lebih mengutamakan kebutuhan dasar seperti tempat tinggal daripada biaya perpisahan sekolah. "Kalau demi anak, jangan tinggal di bantaran sungai," kata Dedi.

Namun, Aura tetap ngotot bahwa perpisahan harus dilakukan.

Dia juga menjelaskan aksinya mengkritik penggusuran rumah yang dicanangkan Dedi Mulyadi. Aura menyampaikan kritik itu dalam bentuk video yang diunggah di TikTok hingga jadi viral.

"Saya di video Tiktok itu kan captionnya bukan untuk meminta kerohiman atau apa pun, saya cuma minta keadilan," ujar Aura.

"Waktu digusur itu gak ada musyawarah, cuma ada Satpol PP datang," ujar Aura menjelaskan terkait rumahnya yang dirobohkan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved