Demo di DPR

Tak Berani Temui Pendemo, Peneliti Lucius Karus Sebut DPR RI Pengecut!

Menurut Lucius, tuntutan massa jelas berpusat pada DPR RI karena berkaitan dengan tunjangan dewan yang dinilai terlalu tinggi.

Penulis: Miftahul Munir | Editor: Dedy
Wartakotalive.com
JAGA WILAYAH --- Warga RW 07 Kelurahan Palmerah, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat bersama warganya menjaga wilayah karena adanya kelompok orang yang berbuat rusuh, Kamis (28/8/2025) malam. 

TRIBUNBEKASI.COM, KRAMAT JATI --- Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI), Lucius Karus menilai, DPR bersikap tidak bijak dan terkesan pengecut karena tidak merespons aksi massa yang telah berlangsung pada Senin (25/08/2025) dan Kamis (28/08/2025) kemarin.

Ia mengatakan, anggota DPR RI tidak ada yang berani menemui massa aksi untuk memberikan tanggapan terkait aspirasi para pendemo.

"Respons yang muncul justru adalah pernyataan konyol anggota DPR Sahroni yang mendukung aparat untuk menangkap pendemo yang anarkis dan di bawah umur," kata Lucius, Jumat (29/8/2025).

Menurut Lucius, tuntutan massa jelas berpusat pada DPR RI karena berkaitan dengan tunjangan dewan yang dinilai terlalu tinggi.

Baca juga: Saat Jenazah Affan Dimakamkan, Ratusan Pelayat Driver Ojol Serukan Perlawanan: Usut Tuntas Kasusnya!

"Alasannya karena tunjangan DPR dinilai terlalu tinggi sedangkan rakyat kebanyakan sedang kesulitan secara ekonomi. Tujuan aksi demonstrasi agar tunjangan tidak masuk akal itu dibatalkan sekaligus mendorong DPR untuk lebih peduli pada rakyat," tegasnya.

Lucius menyayangkan DPR yang memilih menghindar dari rakyat saat menyampaikan pendapat di depan Komplek Parlemen sebanyak dua kali dalam Seminggu terakhir.

Ia menyebut, rapat-rapat bahkan ditiadakan agar anggota DPR RI tidak berhadapan langsung dengan massa aksi unjuk rasa.

"Bagaimana bisa DPR justru memilih untuk menghindar. Rapat-rapat ditiadakan agar anggota tidak berhadapan langsung dengan massa. Ini sungguh sebuah pilihan yang boleh dibilang agak 'pengecut'," ungkap Lucius.

Ia menegaskan bahwa aksi massa ini murni ditujukan kepada DPR, bukan pihak lain, hingga mengundang kekesalan para pendemo.

Lucius meminta DPR RI bertanggung jawab penuh untuk menghadapi tuntutan rakyat.

"Bagaimana bisa DPR sebagai wakil rakyat justru takut dengan rakyatnya sendiri. Siapa sesungguhnya anggota-anggota DPR ini. Bagaimana bisa mereka mengaku wakil rakyat, tetapi tak mau bertemu dengan rakyat?," ucapnya.

Lucius juga mengingatkan bahwa hilangnya kepercayaan publik terhadap DPR RI sama saja dengan hilangnya legitimasi sebagai wakil rakyat. 

Ia menjelaskan, fungsi DPR RI sebagai wakil rakyat yang didasarkan pada kepercayaan. 

"Kalau rakyat tidak percaya lagi seperti yang terlihat dalam aksi massa sepekan ini, ya harusnya tak ada alasan lagi anggota DPR melanjutkan perannya sebagai wakil rakyat," terangnya.

Menyoroti jatuhnya korban dalam aksi terbaru, Lucius mendesak DPR segera mengambil sikap.

Halaman
123
Sumber: Wartakota
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved