Sabtu, 11 April 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

Universitas LIA Gelar FGD, Fokuskan Kurikulum D3 Bahasa Inggris ke Sektor Industri Pariwisata

Sertifikasi bagi lulusan program studi bahasa inggris merupakan hal penting agar lulusan siap kerja

|
Penulis: | Editor: Ign Prayoga
Istimewa
rogram Studi D3 Bahasa Inggris Universitas LIA menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) tentang Evaluasi Kurikulum, Senin (15/9/2025). 

TRIBUNBEKASI.COM – Menjawab tantangan dan peluang di sektor pariwisata yang terus berkembang, Program Studi D3 Bahasa Inggris Universitas LIA menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) tentang Evaluasi Kurikulum, Senin (15/9/2025).

Acara yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting ini merupakan langkah strategis untuk mentransformasi konsentrasi program studi dari Administrasi Perkantoran menjadi Bahasa Inggris untuk Industri Pariwisata.

FGD ini dibuka oleh Rektor Universitas LIA Associate Professor Dr Siti Yulidhar Harunasari, M.Pd. serta dihadiri oleh Ismarita Ramayanti, Ph.D., selaku Wakil Rektor bersama Dekan Fakultas Humaniora dan Desain, Koordinator Program Studi D3 Bahasa Inggris, beserta para dosen.

Untuk memastikan kurikulum relevan dan sesuai dengan kebutuhan industri, Universitas LIA menghadirkan para narasumber ahli yang terdiri dari Budi Supriyanto, Asisten Deputi Manajemen Industri, Kementerian Pariwisata; dan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Himpunan Pramuwisata Indonesia (DPP HPI)  Imam Widodo.

Narasumber lainnya adalah Wakil Ketua Umum DPP HPI, Budiarto; Bendahara Umum DPP HPI, Ibu Nur Citaningrum; Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), ,  Krisnamurti, Ph.D; serta Endah Mulia, praktisi pemandu wisata di bawah koordinasi Kemenpar, dan Gunawan, tour leader sekaligus dosen Mata Kuliah Pariwisata di Universitas LIA.

Diskusi diawali oleh arah kebijakan pemerintah di bidang pariwisata oleh Budi Supriyanto.

Menurut Budi, dari 13 jenis usaha pariwisata, yang menjanjikan dan sesuai untuk diberikan ke mahasiswa adalah travel agent karena dapat dijalankan oleh individu dan banyak dibutuhkan.

Imam Widodo menambahkan pentingnya sertifikasi sehingga lulusan akan siap kerja sebagai pramuwisata atau agen wisata.

Menurut Khrisnamurti, mahasiswa juga perlu dibekali dengan ilmu kewirausahaan, MICE, istilah penting di dunia pariwisata dan komunikasi antar budaya.

Gunawan menegaskan jumlah SKS yang cukup harus diberikan agar mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik di lapangan sebagai pramuwisata atau agen wisata.

Endah memberi masukan bahwa saat ini banyak peminat untuk wisata tematik, seperti wisata Gastronomi, museum, outbound dan lainnya.

"FGD ini menjadi titik tolak penting bagi kami untuk merevitalisasi kurikulum agar lulusan D3 Bahasa Inggris Universitas LIA tidak hanya cakap berbahasa, tetapi juga memiliki kompetensi spesifik yang dibutuhkan oleh industri pariwisata," ujar Siti Yulidhar.

Tujuan utama dari diskusi ini adalah untuk mengevaluasi kurikulum yang sedang berjalan dan mengumpulkan masukan konkret untuk menyusun kurikulum baru yang berfokus pada industri pariwisata.

Hasil dari diskusi komprehensif bersama para pemangku kepentingan ini akan menjadi dasar utama dalam melakukan perbaikan dan revisi kurikulum.

Perubahan ini diharapkan dapat mencetak lulusan yang siap berkarir sebagai tenaga profesional di berbagai lini sektor pariwisata.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved