Kisah Inspiratif

Bertahan Hidup di Masa Pandemi Covid-19, Begini Alasan Eko Pilih Buka Usaha Tanaman Hias di Jatiasih

Eko Mardillah berjualan tanaman hias di Jatiasih tersebut bermula dari hobinya menanam dan menyiram tanaman di pekarangan rumahnya.

Penulis: Miftahul Munir | Editor: Panji Baskhara
Wartakotalive.com/Miftahul Munir
Eko Mardillah di saung tanaman hias Pelangi Plant Jatiasih, di Perumahan Komplek Danamon, Cluster Taman Pelangi, Jalan Primadana IV RT 04/03, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Rabu (25/8/2021). 

TRIBUNBEKASI.COM, JATIASIH - Eko Mardillah, memulai bisnis tanaman hias di masa pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu.

Eko Mardillah berjualan tanaman hias di Jatiasih tersebut bermula dari hobinya menanam dan menyiram tanaman di pekarangan rumahnya.

Kala itu, Eko Mardillah merasa jenuh dengan pekerjaan di bioskop karena selama Covid-19 gajinya selalu dipotong 50 persen.

Terlebih ia harus menyambung hidup untuk keluarganya dan gaji bekerja di bioskop tidak cukup untuk membayar cicilan rumah dan makan sehari-hari.

Baca juga: Keluar dari Pekerjaan dan Memilih Buka Usaha Tanaman Hias di Jatiasih, Eko Raup Puluhan Juta Rupiah

Pada Juni 2021, ia mengajukan surat resign ke tempat kerjanya dengan harapan bisa mendapat kerja di tempat lain.

Akibat dampak pandemi Covid-19 ini menyerang semua perusahaan, maka Eko Mardillah kesulitan mencari kerja.

Karena menyadari hobinya ini bisa membuahkan hasil, Eko Mardillah akhirnya nekat membuka usaha.

Kemudian, berjualan tanaman tidak harus menguras tenaga, tidak akan basi dan tentunya banyak waktu dengan anak dan istri.

Eko Mardillah menyiram tanaman di pagi dan sore hari, apabila ada kiriman yang dekat, ia mengantar sendiri.

Tapi diawal karirnya, Eko Mardillah menggunakan mobil pribadi untuk menjual tanaman hias berkeliling mencari tempat keramaian.

Keuntungan dari berjualan menggunakan mobil ia tabung agar bisa membuka tempat usaha.

Plat mobil Eko Mardillah masih berwarna hitam, sehingga buruan dari dua instansi itu harus dihindarkan.

Eko Mardillah di saung tanaman hias Pelangi Plant Jatiasih, di Perumahan Komplek Danamon, Cluster Taman Pelangi, Jalan Primadana IV RT 04/03, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Rabu (25/8/2021).
Eko Mardillah di saung tanaman hias Pelangi Plant Jatiasih, di Perumahan Komplek Danamon, Cluster Taman Pelangi, Jalan Primadana IV RT 04/03, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Rabu (25/8/2021). (Wartakotalive.com/Miftahul Munir)

Kalau sampai ia tertangkap, mobil pribadinya bisa ditahan atau diberi sanksi denda.

"Jualan selama satu tahun pakai mobil dan lewat online, akhirnya beberapa bulan lalu bisa bikin tempat sendiri untuk tanaman," kata dia kepada Wartakotalive.com, Rabu (25/8/2021).

Eko Mardillah mengakui, membangun bisnis tanaman dari nol memang tidak mudah.

Karena pembelinya pasang surut dan belum ada pelanggan tetap yang memesan tanaman.

Eko Mardillah di saung tanaman hias Pelangi Plant Jatiasih, di Perumahan Komplek Danamon, Cluster Taman Pelangi, Jalan Primadana IV RT 04/03, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Rabu (25/8/2021).
Eko Mardillah di saung tanaman hias Pelangi Plant Jatiasih, di Perumahan Komplek Danamon, Cluster Taman Pelangi, Jalan Primadana IV RT 04/03, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Rabu (25/8/2021). (Wartakotalive.com/Miftahul Munir)

Eko Mardillah tetap sabar dan yakin usahanya bakal semakin besar jika digeluti dengan serius.

Meski sudah memiliki tenpat sendiri, Eko Mardillah belum berani merekrut karyawan untuk membantunya.

Karena ia merasa bisnisnya ini masih bisa dikerjakan seorang diri dan pengiriman tanaman menggunakan aplikasi ojek online.

"Kadang juga memanfaatkan teman yang ngojek buat antar, bayarnya sesuai dengan yang diaplikasi," jelas dia.

Eko Mardillah di saung tanaman hias Pelangi Plant Jatiasih, di Perumahan Komplek Danamon, Cluster Taman Pelangi, Jalan Primadana IV RT 04/03, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Rabu (25/8/2021).
Eko Mardillah di saung tanaman hias Pelangi Plant Jatiasih, di Perumahan Komplek Danamon, Cluster Taman Pelangi, Jalan Primadana IV RT 04/03, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Rabu (25/8/2021). (Wartakotalive.com/Miftahul Munir)

Satu tahun berjalan, kini Eko Mardillah sudah memiliki keuntungan yang cukup besar.

Jika pada saat kerja ia hanya digaji UMR Jakarta perbulan, keuntungan berjualan tanaman hias sebulan mencapai belasan hingga puluhan juta.

Tentunya keuntungan itu tergantung tanaman hias yang dijual setiap harinya.

Apabila pembeli mencari tanaman yang mahal, maka keuntungannya akan lebih banyak.

Hal ini yang membua Eko Mardillah tidak ingin lagi bekerja dan memilih mengembangkan usaha tanaman hiasnya.

Ia beri nama tempat tanaman hiasnya 'Pelangi Plant Jatiasih' di Komplek Danamon, Cluster Taman Pelangi, di Jalan Primadana IV RT 04/03, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi.

"Saya jual tanaman dari harga di bawah Rp, 50.000 sampai Rp, 10 juta," ujar Eko Mardillah.

Eko membagi tips berbisnis di masa pandemi Covid-19 agar usahanya berkembang dan tidak bangkrut.

Pertama, harus mengikuti keinginan atau kata hati apabila membuka usaha.

Apabila tanpa didasari itu, pembisnis pemula seperti dirinya ini bisa dengan cepat bangkrut.

Kedua, tentukan target pasaran supaya apa yang dijual ini laris manis dan mendatangkan keuntungan.

"Kalau minatnya di masakan ya, tanaman, burung atau ikan maka harus diminat itu kalau di luar artinya terpaksa," tuturnya.

Live Sale di Instagram

Owner Pelangi Plant Jatiasih, Eko Mardillah, tak menampik bila usaha tanaman hiasnya terdampak pandemi Covid-19.

Ditambah lagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk memperpanjang masa PPKM darurat yang kini jadi PPKM Level 4 beberapa waktu lalu.

Namun, bagi seorang ayah beranak dua ini tak ambil pusing dengan pandemi Covid-19, justru cari cara lain agar usaha tanaman hiasnya tetap berjalan.

"Manfaatkan dunia digital. Era digital gak pengaruh di masa Pandemi Covid-19 kalau menurut saya. Sekarang, saya rutin jualan tanaman hias lewat live sale di Instagram saja," ujar Eko Mardillah kepada Wartakotalive.com, Minggu (25/7/2021).

Jualan tanaman hias melalui live sale Instagram, jelas Eko Mardillah tidak hanya sebagai salah satu cara bertahan hidup di masa pandemi Covid-19.

Baginya, berjualan tanaman hias lewat live Instagram juga sebagai bentuk membantu program protokol kesehatan yang dibuat pemerintah.

Menurut Eko, dirinya jauh lebih tenang apabila para konsumen atau langganannya tersebut tetap berada di rumah jika ingin membeli tanaman hias yang dijualnya.

"Cukup koordinasi antara pedagang dan pembeli via direct messages Instagram atau via WhatsApp messages, itu saja cukup."

"Nanti barang yang dipesan bisa diantar dengan pakai jasa ojek online (Ojol), atau jasa ekspedisi. Sekarang ini tetap berjalan baik," ucap Eko Mardillah.

Eko Mardillah pun juga mengajak para penyuka tanaman hias untuk membeli tanaman hias tanpa keluar rumah di masa PPKM Level 4.

"Tidak perlu keluar rumah, pantengin live Instagram kami di @pelangiplantjatiasih. Hari ini kami live sale tanaman hias kok," jelasnya.

Eko mengatakan, live sale tanaman hias Pelangi Plant Jatiasih ini digelar hari ini, Minggu 25 Juli 2021 sekitar pukul 07.00 WIB.

"Hari ini dimulai jam 7 malam hingga pukul 9-10 malam. Ketik deal di kolom komentarnya jika pembeli berminat dengan tanaman hias yang kita pamerkan nanti," katanya.

Dikatakan Eko kembali, live sale tanaman hias di Instagram yang kini rutin dilakukan berkolaborasi dengan Sanggar Putra Muria (SPM) Group.

Tanaman Hias Anthurium Silver Blush

Banyak yang mengira jika tanaman hias Anthurium Silver Blush adalah tanaman hias Kuping Gajah.

Tanaman hias Anthurium Silver Blush
Tanaman hias Anthurium Silver Blush (Dok Pelangi Plant Jatiasih)

Di masa pandemi Covid-19, Anthurium Silver Blush juga termasuk salah satu tanaman hias yang jadi buruan emak-emak.

Perbedaan Anthurium Silver Blush dengan Kuping Gajah (Tarantula) ini diungkap pemilik Pelangi Plant Jatiasih, Eko Mardillah, Senin (28/6/2021).

Menurutnya, perbedaan itu terlihat dari warna daun.

"Kalau Kuping Gajah biasa (Tarantula) warna hijaunya lebih tua. Sementara Anthurium Silver Blush warna hijaunya lebih muda" ujar Eko Mardillah kepada Wartakotalive.com.

Lalu, lanjut Eko, guratan tulang pada daun Kuping Gajah biasa, bergaris tipis putih.

Sedangkan guratan pada Anthurium Silver Blush berwarna silver dan lebih lebar.

"Untuk Anthurium Silver Blush, ukurannya juga tidak tinggi, hanya merimbun melebar dengan ukuran pot" terangnya.

Sementara Kuping Gajah biasa, ukurannya bisa lebih tinggi.

Untuk penempatannya, Anthurium Silver Blush akan lebih baik jika ditaruh ditempat yang teduh dan lembab.

Tanaman ini, menurut Eko, tidak baik jika terpapar sinar matahari secara langsung.

Lalu untuk media tanam, kata Eko, diusahakan agar selalu dalam kondisi lembab, bukan basah.

"Bisa menggunakan pupuk kandang, humus andam, sekam mentah, cocovid. Bisa dicampur dengan 20 persen tanah," ujarnya.

Harganya pun relatif murah berkisar Rp 200-500 ribu.

Bagi Eko Mardillah, ia enggan memberikan harga per daun, namun ia memilih per pot.

"Beda banget. Kalau yang menjual per daun, kelas dan jenisnya berbeda. Menurut saya, Anthurium Silver Blush ini termasuk tanaman hias medium," paparnya.

Tanaman hias ini juga cocok dipajang di interior rumah hingga meja kantor.

"Yang penting jangan terpapar sinar matahari langsung," tegasnya.

Mengutip Wikipedia, Anthurium termasuk tanaman dari keluarga Araceae.

Tanaman berdaun indah ini masih berkerabat dengan sejumlah tanaman hias populer semacam aglaonema, philodendron,keladi hias, dan alokasia.

Dalam keluarga araceae, anthurium adalah genus dengan jumlah jenis terbanyak.

Diperkirakan ada sekitar 1000 jenis anggota marga anthurium.

Tanaman ini termasuk jenis tanaman evergreen atau tidak mengenal masa dormansi.

Di alam, biasanya tanaman ini hidup secara epifit dengan menempel di batang pohon.

Dapat juga hidup secara terestrial di dasar hutan.

Daya tarik utama dari anthurium adalah bentuk daunnya yang indah, unik, dan bervariasi.

Daun umumnya berwarna hijau tua dengan urat dan tulang daun besar dan menonjol.

Sehingga membuat sosok tanaman ini tampak kekar namun tetap memancarkan keanggunan tatkala dewasa.

Tidak heran bila tanaman ini memiliki kesan mewah dan eksklusif.

Dimasa lalu, anthurium banyak menjadi hiasan taman dan istana kerajaan-kerajaan di Jawa.

Konon, dipuja sebagai tanaman para raja.

Secara umum anthurium dibedakan menjadi dua yaitu jenis anthurium daun dan jenis anthurium bunga.

Anthurium daun memiliki daya pikat terutama dari bentuk-bentuk daunya yang istimewa.

Sedangkan anthurium bunga lebih menonjolkan keragaman bunga baik hasil hibrid maupun spesies.

Biasanya jenis anthurium bunga dijadikan untuk bunga potong.

(Wartakotalive.com/M26/CC)

Sumber: Wartakota
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved