Berita Bekasi

Delapan Tahun Pakai Air Sumur buat Mandi, Masak, Cuci Baju, Warga Kampung Kedungringin Gatal-gatal

Namun demikian, menggali sumur lebih dalam juga bukan pilihan lantaran kualitas air tetap buruk.

Penulis: Rangga Baskoro | Editor: Dedy
TribunBekasi.com
Air sumur bewarna hitam yang disaring warga Kampung Kedungringin untuk kebutuhan sehari-hari. 

TRIBUNBEKASI.COM, SUKAWANGI --- Suryati (40) warga Kampung Kedungringin, Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, mengaku telah 8 tahun mengonsumsi air sumur tak layak pakai akibat bencana krisis air bersih.

Akibatnya, ia sering mengalami gatal-gatal setelah mandi meskipun air berwarna hitam yang dikumpulkannya telah disaring menggunakan peralatan yang sederhana.

"Iya kadang-kadang gitu pada gatel, orang airnya kayak gini, lah kita pada gatel itu anak-anak," kata Suryati saat di lokasi, Selasa (21/9/2021).

Sumur yang terletak di depan rumahnya memang hanya sedalam 5 meter saja.

Baca juga: Kali Cilemahabang Tercemar Jadi Hitam Pekat, 8.000 Warga Grand Cikarang City Kesulitan Air Bersih

Baca juga: Nyai Nenek 85 Tahun Mandi dan Cuci Piring di Air Kali Cilemahabang yang Menghitam Bak Oli

Namun demikian, menggali sumur lebih dalam juga bukan pilihan lantaran kualitas air tetap buruk.

Begitu pula air tanah yang dipompa melalui mesin pemompa. Kedalaman 100 meter pun tak membuahkan air dengan kualitas baik.

"Sudah nyoba dalemin, cuma sama, hitam juga airnya. Pakai pompa juga sama, sudah 100 meter saja masih coklat, kalau 120 meter baru bersih," ucapnya.

Tak ayal ketika hujan turun, masyarakat sekitar langsung meletakkan wadah beserta ember air untuk menampung air hujan yang dinilainya lebih baik dikonsumsi untuk menyuci pakaian, memasak dan mandi.

"Kecuali kalau musim hujan dah, kita nadangin air hujan," kata Suryati. 

Dilanda bencana kekeringan

Bencana Kekeringan dan krisis air bersih masih melanda warga di Kampung Kedungringin, Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi.

Musim kemarau berkepanjangan disertai dengan minimnya intensitas hujan menyebabkan masyarakat di sekitar lokasi tak bisa merasakan air bersih sejak 8 tahun silam.

"Hampir 8 tahun sudah, enggak ada penanganan sama sekali sampai sekarang," kata Suryati di lokasi, Selasa (21/9/2021).

Sumur yang terletak depan rumahnya pun kini hanya mengeluarkan air yang kualitasnya sangat buruk, bahkan tak layak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti menyuci atau mandi.

"Ya seperti ini, item enggak bisa kepakai, bau dan item," keluhanya

Halaman
12
Sumber: Tribun bekasi
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved