Breaking News:

Berita Edukasi

Dorong Percepatan Transformasi, Konsorsium iHiLead Gelar Pelatihan Pimpinan Perguruan Tinggi

Salah satu penyebab tingginya TPT dari perguruan tinggi adalah kualitas lulusan yang kurang sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI).

Editor: Ichwan Chasani
Istimewa
Dr. Ir. Paristiyanti Nurwandani, MP, Sekretaris Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI saat memberikan sambutan kunci pada pembukaan ajang Train the Trainers untuk fasilitator Indonesia Higher Education Leadership (iHiLead), Senin (13/12/2021). 

TRIBUNBEKASI.COM — Indonesia memiliki 4.670 lembaga pendidikan tinggi baik dalam bentuk universitas, sekolah tinggi, akademi, politeknik hingga sekolah komunitas. Seluruh lembaga pendidikan tinggi tersebut memiliki lebih dari 8 juta mahasiswa.

Di sisi lain, kualitas lulusan pendidikan tinggi masih harus ditingkatkan. Ini karena masih banyaknya lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mencari kerja dan bahkan menjadi pengangguran.

Sebagai gambaran, data Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa pada Februari 2021 jumlah angkatan kerja mencapai 139,81 juta.

Lalu, dari seluruh angkatan kerja, jumlah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebanyak 8,75 juta. Dari seluruh TPT, yang merupakan lulusan universitas mencapai 5,98 persen dan lulusan Diploma I/II/III adalah 5,87 persen.

Salah satu penyebab tingginya TPT dari perguruan tinggi adalah kualitas lulusan yang kurang sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI).

Menurut Pelaksana Tugas Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Dikti Ristek) Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., IPU, Asean Eng., masih banyak perguruan tinggi di Indonesia yang menerapkan sistem pendidikan berbasis Industry 3.0. Ini sudah ketinggalan.

Untuk itu Prof Nizam meminta perguruan-perguruan tinggi di Indonesia agar berani merombak sistem pendidikannya dari Industry 3.0 ke Industry 4.0.

“Saat ini perubahan tidak lagi terjadi secara linier, tetapi sudah semakin kompleks. Untuk itu perguruan-perguruan tinggi di Indonesia harus mulai meninggalkan kompetensi-kompetensi lama yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Perguruan tinggi di Indonesia harus semakin adaptif dan berani mendisrupsi dirinya sendiri,” tegas Prof. Nizam.

Sementara itu, Dr. Ir. Paristiyanti Nurwandani, MP, Sekretaris Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI, menegaskan bahwa guna meningkatkan kualitas lulusan, kerja sama antarperguruan tinggi menjadi sangat penting.

Program ini dilakukan secara hybrid. Sebagian peserta dan narasumber hadir secara luring (offline) di President Executive Club, Kota Jababeka, Cikarang, dengan menerapkan prosedur kesehatan yang ketat.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved